Benuang Laki di Hutan Kahung Kalsel Jadi Perbincangan, Pohon Unik Ini Bikin Pengunjung Penasaran.
📅 Jumat, 12 Jun 2026, 14:52 WIB | Oleh: Yebdi TrismarSelain itu, pohon besar berperan penting dalam mitigasi perubahan iklim melalui kemampuannya menyerap dan menyimpan karbon dalam jumlah besar, sehingga membantu mengurangi konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer.
"Kami sangat takjub melihat keberadaan pohon raksasa di kawasan hutan hujan tropis Kahung, apalagi populasinya cukup banyak dan terjaga dengan baik," ucap Amel, sapaan akrab dosen Jurusan Pendidikan Biologi ULM ini.
Amel mengungkapkan benuang laki pertama kali dipublikasikan oleh Botanis Carl Ludwig Blume pada tahun 1850.
Walaupun populasi dan sebarannya cukup banyak dengan status Risiko Rendah atau LC (Least Concern) berdasarkan daftar merah IUCN, namun Amel mengingatkan keberadaan pohon hutan ini tetap harus dijaga kelestariannya.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Jangan sampai ada oknum tak bertanggung jawab menebang pohon warisan bumi ini," ucapnya.
Resita Rahmitiasari dari Badan Pengelola Meratus UNESCO Global Geopark mengatakan Hutan Hujan Tropis Kahung merupakan situs biologi yang berada di rute timur, dan secara administratif termasuk dalam wilayah Desa Belangian.
Selain disuguhkan pohon-pohon raksasa, wisatawan yang berkunjung di kawasan ini juga kerap ingin melihat langsung keberadaan air terjun setinggi sekitar 30 meter.
Untuk menuju lokasi, dari arah pusat Kota Banjarbaru menempuh perjalanan sekitar 45 menit ke Pelabuhan Riam Kanan di Kabupaten Banjar.
Kemudian naik perahu kecil bermesin atau dalam bahasa Banjar disebut kelotok selama kurang lebih dua jam menuju Desa Belangian.
Jika ingin menuju kawasan Air Terjun Kahung, wisatawan harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki sekitar enam jam melewati hutan hujan tropis yang masih perawan.
Hutan Kahung adalah kawasan hutan hujan tropis purba yang menjadi salah satu situs penting di Geopark Meratus.
Hutan ini banyak menyimpan keragaman hayati yang unik dan langka, dari pohon-pohon raksasa hingga berbagai satwa endemik khas Kalimantan.
"Kami sering menjumpai burung kuau raja (Argusianus argus) atau masyarakat menyebutnya burung haruai, meraknya hutan Kahung," ungkapnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!