Kolaborasi Indonesia-Australia Kembangkan Hilirisasi Rumput Laut untuk Tingkatkan Kesejahteraan Pesisir
📅 Rabu, 10 Jun 2026, 20:15 WIB | Oleh: Haryo BronoJAKARTA – Potensi besar rumput laut di Nusa Tenggara Barat (NTB) dinilai dapat menjadi salah satu penggerak utama ekonomi biru melalui pengembangan produk bernilai tambah. Upaya hilirisasi komoditas tersebut menjadi fokus pembahasan dalam forum Connect! #12 bertajuk Advancing Sustainable Blue Economy Innovation for Resilient and Inclusive Growth yang diselenggarakan Koneksi di Universitas Mataram, pada hari Selasa (9/6).
Sebagai provinsi penghasil rumput laut terbesar ketiga di Indonesia dengan produksi lebih dari 3,6 juta ton sepanjang periode 2019–2023, NTB memiliki peluang besar untuk mengembangkan industri berbasis sumber daya kelautan yang berkelanjutan. Melalui forum tersebut, pemerintah, akademisi, peneliti, dan media membahas berbagai inovasi yang dapat meningkatkan nilai tambah rumput laut sekaligus memperkuat kesejahteraan masyarakat pesisir.
Direktur Pendanaan Riset dan Inovasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Raden Arthur Ario Lelono, mengatakan Indonesia memiliki sumber daya kelautan yang sangat besar sebagai fondasi pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
“Melalui teknologi dan inovasi, kita membangun ekosistem nilai tambah yang berdampak pada peningkatan nilai rumput laut nasional. Kita sedang membuktikan bahwa menjaga kelestarian lingkungan dan mengentaskan kemiskinan dapat berjalan beriringan melalui ekonomi biru yang sesungguhnya,” ujarnya.
Dalam forum tersebut dipaparkan sejumlah hasil riset kolaboratif Indonesia-Australia yang berupaya mendorong diversifikasi pemanfaatan rumput laut. Salah satunya adalah penelitian yang melibatkan Universitas Mataram, BRIN, dan South Australian Research and Development Institute mengenai pengembangan rumput laut sebagai sumber bahan baku nutrasetikal.
Sebaiknya Anda baca juga:
Penelitian bertajuk Commercialising Cultivated Tropical and Temperate Seaweeds as a Sustainable Source of Nutraceuticals for Health and Nutrition itu menyoroti ketergantungan ekspor rumput laut Indonesia pada satu negara tujuan yang mencapai lebih dari 86 persen. Kondisi tersebut membuat harga komoditas rentan ditekan dan berdampak langsung terhadap pendapatan petani.
Selain itu, sektor budidaya rumput laut juga menghadapi tantangan perubahan iklim yang memengaruhi produktivitas. Karena itu, tim peneliti mendorong diversifikasi komoditas dan pengembangan produk pangan bernilai gizi tinggi melalui kerja sama dengan petani dan pelaku usaha di Seriwe, Lombok Timur.
Peneliti utama dari Universitas Mataram, Eka S. Prasedya, menjelaskan berbagai spesies rumput laut memiliki kandungan nutrisi yang berpotensi dikembangkan menjadi produk kesehatan, pangan fungsional, hingga bahan baku industri makanan dan kosmetik.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurutnya, penguatan rantai nilai melalui hilirisasi dapat memberikan dampak sosial yang signifikan karena sekitar 80 persen aktivitas budidaya dan pengolahan rumput laut melibatkan perempuan.
“Dengan peningkatan produksi dan pengembangan produk bernilai tambah, sektor ini berpotensi meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir,” katanya.
Selain untuk produk kesehatan dan nutrisi, rumput laut juga dikembangkan sebagai bahan baku industri ramah lingkungan. Melalui riset EcoSea: Turning Seaweed into Food Packaging Bioplastics and Value-Added Byproducts for a Greener Indonesia, para peneliti mengembangkan teknologi pengolahan rumput laut jenis spinosum (Eucheuma denticulatum) menjadi bioplastik kemasan pangan dan berbagai produk turunan lainnya.
Penelitian tersebut merupakan kolaborasi antara PT Bahari Agro Indonesia, BRIN, Central Queensland University, dan University of the Sunshine Coast.
Peneliti utama PT Bahari Agro Indonesia, Maya Puspita, mengatakan biomassa rumput laut dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan berbagai produk bernilai tambah, mulai dari bahan kosmetik, pakan ternak, protein, hingga material peningkat kualitas bioplastik.
Ia menegaskan bahwa pengembangan bahan pengganti plastik tidak hanya berfokus pada aspek ramah lingkungan, tetapi juga harus memiliki nilai ekonomi dan dapat diterapkan secara berkelanjutan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!