Tingkat Mortalitas Lupus di Indonesia Masih Tinggi, Deteksi Dini Dinilai Krusial
📅 Selasa, 26 Mei 2026, 21:35 WIB | Oleh: Haryo BronoJAKARTA – Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam penanganan Systemic Lupus Erythematosus (SLE) atau lupus. Dengan estimasi sekitar 1,4 juta pasien dan tingkat mortalitas mencapai 8,1 persen, Indonesia tercatat sebagai salah satu negara dengan angka kematian akibat SLE tertinggi di dunia. Ironisnya, banyak pasien baru mendapatkan diagnosis setelah mengalami kerusakan organ yang cukup berat.
Melalui momentum Hari Lupus Sedunia, AstraZeneca Indonesia meluncurkan inisiatif edukasi bertajuk “From Burden to Living Well” guna meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap SLE, mempercepat deteksi dini, dan memperluas akses terhadap penanganan yang lebih tepat.
Presiden Direktur AstraZeneca Indonesia, Esra Erkomay, mengatakan peningkatan kesadaran publik menjadi langkah penting agar masyarakat dapat mengenali gejala lupus sejak awal. Ia mengatakan pihaknya senantiasa berkomitmen untuk memajukan layanan bagi pasien dengan penyakit kronis dan kompleks melalui inovasi, riset, dan kolaborasi.
“Untuk SLE, peningkatan kesadaran masyarakat merupakan langkah penting agar masyarakat dapat mengenali gejala lebih awal dan pasien dapat memperoleh penanganan yang tepat,” ujarnya dalam keterangan resmi, Selasa (26/5).
SLE merupakan penyakit autoimun kronis yang dapat menyerang berbagai organ tubuh, mulai dari kulit, sendi, ginjal, hingga sistem saraf pusat. Penyakit ini terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang jaringan sehat sehingga memicu peradangan kronis.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Reumatologi, Sandra Sinthya Langow, menjelaskan bahwa lupus sering disebut sebagai “penyakit seribu wajah” karena gejalanya sangat beragam dan kerap menyerupai penyakit lain.
“Pasien dapat mengalami kelelahan ekstrem, nyeri sendi, ruam kulit, hingga keterlibatan organ seperti ginjal dan sistem saraf. Gejala tersebut dapat muncul secara bertahap maupun tiba-tiba, sehingga sering kali membuat proses diagnosis menjadi lebih panjang,” kata dr. Sandra.
Ia menambahkan, salah satu tantangan terbesar dalam praktik klinis adalah keterlambatan diagnosis. Banyak pasien baru diketahui mengidap lupus setelah terjadi kerusakan organ permanen yang membuat penanganan menjadi lebih kompleks.
Sebaiknya Anda baca juga:
Secara global, lupus masih menjadi tantangan kesehatan dengan beban penyakit yang tinggi. Data epidemiologi global selama 30 tahun terakhir menunjukkan insidensi SLE mencapai sekitar 5,14 per 100.000 orang per tahun, dengan sekitar 400 ribu kasus baru terdiagnosis setiap tahunnya. Di Indonesia, angka insidensi diperkirakan mencapai 7,4 per 100.000 orang per tahun.
Indonesia juga menempati peringkat keempat dunia dalam jumlah perempuan usia produktif 15–45 tahun yang hidup dengan lupus. Kondisi ini membuat SLE tidak hanya menjadi persoalan medis, tetapi juga berdampak pada aspek sosial dan ekonomi, termasuk produktivitas serta kualitas hidup pasien.
Data menunjukkan sekitar 82 persen pasien lupus mengalami penurunan produktivitas akibat kelelahan. Selain itu, 43,9 persen pasien mengalami ketidakhadiran di sekolah atau tempat kerja, 32,5 persen bahkan terpaksa berhenti bekerja, dan sekitar 50 persen menghadapi dampak psikologis akibat perjalanan penyakit yang panjang.
Dalam beberapa tahun terakhir, pendekatan penanganan lupus terus berkembang. Penanganan kini tidak hanya berfokus pada mengatasi flare atau kekambuhan, tetapi juga diarahkan untuk mencapai remisi serta mencegah kerusakan organ jangka panjang.
Medical Director AstraZeneca Indonesia, Feddy, mengatakan pemahaman lebih mendalam terhadap mekanisme penyakit membuka peluang hadirnya terapi yang lebih terarah.
“Salah satu mekanisme penting yang berperan dalam proses inflamasi pada SLE adalah jalur Interferon Tipe I. Pemahaman ini membuka peluang untuk menghadirkan opsi terapi yang dapat membantu mengontrol aktivitas penyakit secara cepat dan konsisten, mencapai remisi, serta perlindungan dari kerusakan organ dalam jangka panjang,” ujarnya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!