Trilema Batu Bara: Ketahanan Energi, Lingkungan, dan Ekonomi
📅 Kamis, 21 Mei 2026, 12:45 WIB | Oleh: Mohammad Zaki AlatasPandangan serupa disampaikan Asisten Peneliti Purnomo Yusgiantoro Center (PYC), Nur Hikmat. Menurutnya, dari sudut pandang pelaku usaha, implementasi ESG pada tahap awal memang akan menjadi tambahan biaya yang cukup besar bagi perusahaan tambang.
“Secara pragmatis, implementasi ESG pada tahap awal pasti menjadi first hit cost yang memberikan tekanan finansial cukup besar bagi perusahaan,” ujarnya.
Nur Hikmat menjelaskan struktur industri batu bara Indonesia juga memengaruhi lambatnya implementasi ESG secara substantif. Saat ini sekitar 65 persen produksi batu bara Indonesia ditujukan untuk pasar ekspor, sedangkan pasar domestik hanya menyerap sekitar 35 persen produksi.
Dua negara tujuan ekspor terbesar batu bara Indonesia adalah Tiongkok dan India. Namun menurutnya, tuntutan dan standar ESG di kedua negara tersebut saat ini masih belum terlalu kuat dibanding pasar Eropa atau negara maju lainnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Kalau biggest buyers kita belum menjadikan ESG sebagai kebutuhan utama, maka dorongan implementasi ESG secara substantif juga belum terlalu kuat,” katanya.
Ia menilai kondisi tersebut membuat ESG di sektor batu bara Indonesia masih lebih banyak diposisikan sebagai instrumen tambahan dibanding kebutuhan utama bisnis.
Ketika Perusahaan Memilih Berubah
Sebaiknya Anda baca juga:
Di tengah berbagai tantangan tersebut, sejumlah perusahaan telah melakukan transformasi model bisnis. SVP Public Affairs TBS Energi Utama, Josefhine Chitra, mengatakan perusahaannya telah memulai transisi menuju sektor ekonomi rendah karbon sejak beberapa tahun terakhir.
TBS sebelumnya dikenal sebagai perusahaan yang bergerak di sektor batu bara dan PLTU. Namun pada 2025, perusahaan telah melakukan divestasi PLTU-nya sehingga emisi perusahaan turun 85 persen.
Saat ini TBS mulai mengembangkan bisnis di sektor ekonomi hijau seperti pengelolaan limbah, energi terbarukan, dan kendaraan listrik.
Josefhine menjelaskan bahwa keputusan melakukan transformasi bisnis dipicu oleh perubahan lanskap global, terutama setelah pandemi COVID-19 yang membuat harga batu bara jatuh dan investor institusi dan perbankan internasional makin membatasi pendanaan untuk sektor batu bara.
“Secara finansial, batu bara mulai dipandang memiliki keterbatasan prospek. Sementara sektor ekonomi hijau justru tumbuh sangat cepat,” ujarnya.
Josefhine menambahkan, transisi bisnis tidak dapat dilakukan secara instan dan membutuhkan komitmen kuat dari manajemen perusahaan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!