WHO Siaga! Wabah Ebola Baru di Kongo dan Uganda Disebut Sulit Dikendalikan
📅 Selasa, 19 Mei 2026, 05:45 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: AFP
Kinshasa - Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization (WHO) menetapkan wabah Ebola terbaru di Afrika sebagai “darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional” pada 17 Mei lalu.
Status tersebut diumumkan setelah wabah Ebola di wilayah timur laut Republik Demokratik Kongo mulai menyebar ke negara tetangga, Uganda.
Kekhawatiran dunia meningkat karena wabah kali ini melibatkan varian langka Bundibugyo ebolavirus, jenis Ebola yang hingga kini belum memiliki vaksin maupun terapi antibodi khusus yang disetujui.
Penyakit Paling Mematikan di Dunia
Ebola dikenal sebagai salah satu penyakit paling mematikan dengan tingkat kematian yang bisa mencapai 90 persen.
Virus ini berasal dari keluarga orthoebolavirus dan banyak ditemukan di kawasan Afrika Sub-Sahara. Penularan diyakini berasal dari hewan yang terinfeksi seperti kelelawar, gorila, dan simpanse sebelum menyebar ke manusia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Virus Ebola menular melalui kontak langsung dengan cairan tubuh penderita atau benda yang terkontaminasi. Petugas medis dan anggota keluarga yang merawat pasien menjadi kelompok paling berisiko saat wabah terjadi.
Berbeda dengan virus corona penyebab COVID-19, Ebola tidak mudah menyebar melalui udara atau kontak biasa. Penularan umumnya terjadi melalui kontak erat dengan cairan tubuh pasien yang sakit parah atau meninggal dunia.
Varian Bundibugyo
Wabah terbaru ini diidentifikasi sebagai Bundibugyo ebolavirus, varian langka yang pertama kali ditemukan di Uganda pada 2007.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sejauh ini, dunia baru mencatat dua wabah Bundibugyo sebelumnya, yakni di Uganda pada 2007 dan di Kongo pada 2012. Karena kasusnya sangat jarang, ilmuwan masih memiliki data terbatas dibandingkan varian Zaire yang lebih umum dan lebih mematikan.
Sebagian besar vaksin Ebola yang ada saat ini, termasuk vaksin Ervebo, dikembangkan khusus untuk melawan varian Zaire setelah epidemi besar Afrika Barat pada 2013–2016 yang menewaskan lebih dari 11 ribu orang.
Akibatnya, pilihan pengobatan untuk varian Bundibugyo menjadi jauh lebih terbatas.
Meski dokter masih mempertimbangkan penggunaan antivirus seperti Remdesivir produksi Gilead Sciences, hingga kini belum ada vaksin maupun terapi antibodi monoklonal yang secara khusus disetujui untuk varian tersebut.
Penyebaran di Wilayah Konflik
Pejabat kesehatan menyebut wabah kemungkinan telah menyebar selama berminggu-minggu sebelum akhirnya terdeteksi.
Virus kini menyebar di Provinsi Ituri, wilayah terpencil dan rawan konflik di timur Kongo yang memiliki infrastruktur kesehatan terbatas dan masih diwarnai aktivitas kelompok bersenjata.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!