Cegah Pelarian Modal, BI Diperkirakan Menaikkan Bunga Acuan di Semester I-2026
📅 Rabu, 13 Mei 2026, 00:30 WIB | Oleh: Tim Redaksi“Kalau dari sisi globalnya, yang terletak di sisi advance rate, sebenarnya market masih akan cenderung melihat efek itu tidak akan mempertahankan suku bunganya hingga akhir tahun ini, dan baru membuka kemungkinan pemotongan itu di akhir tahun depan,” terang Faisal.
Kondisi itu membuat tekanan eksternal terhadap nilai tukar dan pasar keuangan domestik masih perlu diwaspadai dalam beberapa waktu ke depan.
Fase Defensif
Pengamat Kebijakan Publik Fitra, Badiul Hadi, menilai proyeksi kenaikan BI Rate menjadi 5 persen menunjukkan stabilitas moneter Indonesia sedang memasuki fase defensif.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Saat rupiah sudah menembus 17.500 rupiah per dollar AS dan terdepresiasi lebih dari 4 persen sejak awal tahun, ruang kebijakan BI menjadi semakin sempit,” kata Badiul Dalam konteks itu, suku bunga bukan lagi instrumen mendorong pertumbuhan, melainkan alat darurat untuk menjaga kepercayaan pasar dan menahan capital outflow.
Dia mengakui jika kenaikan suku bunga selalu membawa konsekuensi fiskal dan sosial yang tidak kecil.
Pengalaman menunjukkan setiap kenaikan 25 basis poin berpotensi meningkatkan biaya pinjaman pemerintah, memperberat bunga utang korporasi, dan menekan konsumsi rumah tangga.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Di tengah pertumbuhan ekonomi yang belum benarbenar kuat, kebijakan moneter ketat justru berisiko menciptakan perlambatan ekonomi domestik,” katanya.
Sebab, dunia usaha menghadapi kredit lebih mahal, sementara masyarakat menghadapi cicilan yang makin berat, terutama sektor properti, otomotif, dan UMKM yang sangat sensitif terhadap bunga.
Badiul menilai pelemahan rupiah kali ini bukan semata persoalan psikologis pasar, tetapi juga mencerminkan tekanan struktural.
PIER mencatat adanya ancaman pelebaran defisit transaksi berjalan dan kenaikan imported inflation akibat mahalnya dollar AS.
“Ini menandakan ekonomi Indonesia masih sangat bergantung pada arus modal asing dan impor bahan baku,” katanya.
Ketika The Fed menahan suku bunga tinggi lebih lama, Indonesia praktis dipaksa ikut menjaga yield domestik agar dana asing tidak keluar lebih besar.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!