Fashoda, Benteng Kecil di Sudan yang Pernah Ancam Perdamaian Eropa
📅 Senin, 04 Mei 2026, 07:23 WIB | Oleh: Haryo BronoFASHODA, sebuah sudut terpencil Sudan yang nyaris terlupakan, sejarah dunia hampir saja berbelok ke arah pertumpahan darah yang mengerikan di sini. Insiden Fashoda tahun 1898 menjadi saksi betapa kaku dan paranoidnya diplomasi para kekaisaran kala itu.
Saat itu pasukan kecil Prancis mengklaim otoritas atas kota Fashoda (Kodok modern) dan Lembah Nil Hulu, Mereka tidak hanya menancapkan bendera, tetapi juga memicu krisis diplomatik hebat antara Inggris dan Prancis.
Di seberang pasukan Pranis, pasukan Inggris yang jauh lebih besar, yang baru saja meraih kemenangan atas negara Mahdist di Pertempuran Omdurman, berdiri dengan jemari pada pelatuk, meminta Prancis mundur. Insiden kacau dalam Perebutan Afrika ini hampir memicu perang antara kedua kekuatan kolonial yang semakin curiga akan niat satu sama lain.
Hubungan Inggris-Prancis memburuk tajam, menciptakan luka yang tidak akan pulih sampai kedua negara menyadari bahwa Kekaisaran Jerman adalah ancaman nyata yang jauh lebih mengerikan bagi mereka di Eropa dan wilayah lainnya.
Ambisi di Tengah Aliran Sungai Nil
Sebaiknya Anda baca juga:
Perang Mahdist (1881-1899) menjadi latar belakang berdirinya negara Mahdist di Sudan, dipimpin oleh Muhammad Ahmad yang memproklamirkan diri sebagai Mahdi. Inggris, yang menguasai Mesir sebagai protektorat de facto, sangat ingin mengendalikan Sudan karena Sungai Nil adalah urat nadi Mesir yang mengalir tepat di tengahnya.
Ambisi Inggris adalah melanjutkan hubungan lama ketika Sudan secara nominal diperintah oleh Mesir di bawah Kekaisaran Ottoman. Namun, Mahdi berhasil mengepung Khartoum pada 1885, menewaskan pahlawan nasional Inggris, Jenderal Charles Gordon. Pasca jatuhnya Khartoum, publik Inggris menuntut balas dendam.
Namun, keterlibatan di Afghanistan membuat pengikut Mahdi dibiarkan selama dua dekade. Inggris pun mulai mengamankan perbatasan Sudan melalui perjanjian dengan Italia (1891) dan Negara Bebas Kongo (1894).
Ketika Italia menginvasi Abyssinia pada 1896, kekuatan Eropa seolah mengepung Sudan dari segala sisi, bersaing memperebutkan potongan terakhir “kue” Afrika itu. Tindakan konkret Inggris dimulai sejak 1896 di bawah pimpinan Jenderal Herbert Kitchener yang maju ke selatan sambil membangun jalur kereta api secara sistematis.
Setelah menghancurkan Mahdist di Omdurman pada 2 September 1898, perintah baru Kitchener adalah menghadapi pasukan kecil Prancis pimpinan Kapten Jean-Baptiste Marchand yang telah berani menancapkan bendera di Fashoda, Sudan selatan.
Benturan Dua Visi
Konferensi Berlin 1884-1885 menetapkan bahwa klaim atas wilayah baru harus didasarkan pada pengendalian efektif. Inggris merasa memiliki hak sejarah atas Sudan, namun Prancis melihat celah untuk menghubungkan Afrika Barat mereka dengan Somaliland Prancis di pantai timur melalui jalur kereta api Dakar-Djibouti. Bagi Prancis, Sudan adalah kompensasi atas hilangnya pengaruh mereka di Mesir akibat pengambilalihan oleh Inggris.
Inggris tentu tidak tinggal diam. Mereka tidak ingin Prancis membangun bendungan di hulu Nil yang bisa menyandera kesejahteraan Mesir. Ambisi Inggris adalah jalur kereta api dari Kairo ke Koloni Tanjung di Afrika Selatan.
Menteri Luar Negeri Prancis, Gabriel Hanotaux, yang paranoid, melihat ini sebagai konspirasi Inggris untuk menyingkirkan Prancis dari Afrika. Titik temu dari kedua garis ambisi yang bersilangan ini ternyata adalah pos terdepan Fashoda yang sama sekali tidak istimewa.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!