KIE Jakarta Summit Soroti Inovasi Berbasis Masyarakat untuk Perkuat Ketangguhan Energi
📅 Rabu, 29 Apr 2026, 19:02 WIB | Oleh: Haryo BronoAkademisi Universitas Trunojoyo, Wahyudi Agustiono, menjelaskan masyarakat sebelumnya hanya mengandalkan pendapatan dari pengolahan garam tradisional. Kini, sistem baru memungkinkan bak penampungan air laut dimanfaatkan untuk budidaya rumput laut, sekaligus menghasilkan air bersih dan energi surya secara bersamaan.
“Jadi ada tiga teknologi yang digunakan. Ini masih tahap penelitian awal dan perlu penyempurnaan desain, tetapi kami berharap dapat direplikasi di daerah lain,” ujarnya.
Hasil Awal Menjanjikan
Prototipe tersebut mampu menghasilkan daya surya sebesar 1.764 hingga 3.016 watt, memproduksi sekitar dua liter air layak minum per menit, serta memanfaatkan kembali tujuh hingga delapan liter air pekat per menit untuk mendukung produksi garam berbasis tenaga surya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Chief Technology and Sustainability Officer PLN, Evy Haryadi, yang turut hadir dalam forum tersebut mengapresiasi solusi teknologi itu. Namun, ia menekankan bahwa perluasan implementasi ke skala lebih besar harus mempertimbangkan model pendanaan yang berkelanjutan, baik bagi PLN maupun masyarakat.
Kolaborasi Jadi Kunci
KIE Jakarta Summit menegaskan bahwa ketangguhan energi tidak hanya ditentukan oleh kebijakan makro, tetapi juga inovasi konkret yang menyentuh kebutuhan masyarakat. Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, industri, dan komunitas dinilai menjadi kunci agar transisi energi berjalan adil, inklusif, dan berkelanjutan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!