Krisis Mengintai Industri Plastik: RI Cari Sumber Baru Bahan Baku di Tengah Krisis Global
📅 Senin, 13 Apr 2026, 18:40 WIB | Oleh: Tim PenulisJAKARTA – Upaya mencari sumber baru pasokan bahan baku plastik mencerminkan strategi diversifikasi untuk mengurangi ketergantungan pada rantai pasok yang selama ini rentan terhadap fluktuasi harga dan gangguan global.
Kebutuhan industri plastik yang terus meningkat, terutama dari sektor kemasan, otomotif, dan manufaktur, mendorong pelaku usaha untuk memperluas sumber bahan baku, baik melalui impor dari negara alternatif maupun pengembangan bahan baku domestik berbasis petrokimia dan daur ulang.
Di sisi lain, langkah ini juga menjadi respons terhadap tekanan harga minyak mentah sebagai bahan baku utama serta tuntutan transisi menuju ekonomi yang lebih berkelanjutan.
Penguatan ekosistem daur ulang dan substitusi material diharapkan tidak hanya menjaga stabilitas pasokan, tetapi juga meningkatkan efisiensi biaya produksi.
Namun, tantangan utama tetap terletak pada kesiapan infrastruktur, teknologi, dan konsistensi kebijakan industri yang mendukung kemandirian bahan baku dalam jangka panjang.
Sebaiknya Anda baca juga:
Pemerintah Indonesia mencari sumber pasokan baru bahan baku plastik di tengah krisis global yang dipicu gangguan rantai pasok akibat konflik di kawasan Timur Tengah.
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengatakan, selama ini Indonesia masih bergantung pada impor naphta sebagai bahan baku bijih plastik dari Timur Tengah. Namun, pasokan dari kawasan itu saat ini masih terganggu akibat dampak perang.
“Jadi plastik itu kan memang kita impor bahan bakunya, untuk bijih plastik itu naphta dari Timur Tengah selama ini. Karena imbas perang sehingga otomatis terganggu dari sana,” kata Budi saat ditemui di Kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (13/4).
Sebaiknya Anda baca juga:
Sebagai langkah mitigasi jangka pendek, pemerintah mulai mencari alternatif pasokan dari sejumlah negara seperti India, Amerika Serikat (AS), dan kawasan Afrika.
Ia menyebut komunikasi dengan para produsen di negara-negara tersebut juga sudah dilakukan.
“Jadi kami sudah komunikasi dengan para produsen, memang sudah dapat, cuma mungkin jumlahnya atau perlu waktu juga karena berpindah, dan sekarang kondisi perang pengapalan juga agak lambat,” ujarnya.
Budi menambahkan, pemerintah juga mengoordinasikan perwakilan perdagangan di luar negeri untuk membantu mencari sumber pasokan alternatif dari negara lain.
Di sisi lain, ia mengakui krisis bahan baku plastik saat ini bersifat global. Sejumlah negara produsen seperti Taiwan, Korea Selatan, Thailand, Vietnam, dan Singapura juga mengalami gangguan produksi yang sama.
Terkait sumber pasokan bahan baku plastik yang baru, Budi mengatakan, realisasi impor masih membutuhkan waktu, sehingga untuk sementara industri masih mengandalkan stok yang tersedia.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!