Cegah Gejolak Sistemik dengan Kajian Pengelolaan Risiko Pasar dan Keuangan
📅 Rabu, 08 Apr 2026, 00:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: antara
DEPOK - Tantangan utama dunia keuangan saat ini tidak hanya pada tingginya volatilitas, tetapi juga kian eratnya keterhubungan antarpasar, tekanan likuiditas, perubahan perilaku investor dan percepatan inovasi digital. Menghadapi tantangan yang makin kompleks itu, maka penting melakukan pengkajian pengelolaan risiko pasar dan keuangan.
Guru besar bidang Manajemen Keuangan dan Risiko Pasar Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI), Zaafri Ananto Husodo di kampus UI Depok, Selasa (7/4) mengatakan risiko pasar tidak lagi dapat dipahami hanya dari satu indikator atau satu kelas aset. Pasar saham, obligasi, valuta, dan komoditas kini semakin terhubung dengan ekosistem aset digital yang bergerak hampir tanpa jeda.
Dalam situasi tersebut, guncangan kecil dapat berhenti sebagai riak, namun juga berpotensi berkembang menjadi gejolak sistemik apabila saluran transmisi tidak dikenali dengan baik.
“Mengukur yang tak pasti adalah fondasi kerja ilmiah, mengelola yang berisiko adalah amanah profesi dan amanah sosial,” paparnya.
Volatilitas urai Zaafri bukan sekadar angka statistik, melainkan gejala dari interaksi yang lebih dalam antara likuiditas, perilaku pelaku pasar, arus informasi, ketidakpastian, dan teknologi transaksi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Oleh karena itu, manajemen risiko pasar perlu dibangun di atas pemahaman yang utuh mengenai arsitektur risiko pasar, yakni struktur yang menentukan bagaimana guncangan terbentuk, bergerak, dan mempengaruhi stabilitas sistem keuangan.
Melalui buku orasi dan rangkaian risetnya, Prof. Zaafri turut mendorong pengembangan ilmu manajemen keuangan dan risiko pasar yang tidak berhenti pada aspek pengukuran semata.
Ia menekankan pentingnya membangun metodologi yang relevan bagi Indonesia, memperkuat kolaborasi antara akademisi, regulator, dan industri, serta menyiapkan talenta yang memiliki literasi data, literasi risiko, dan etika model.
Sebaiknya Anda baca juga:
Guncangan Kecil
Pada kesempatan terpisah, Sekretaris Ikatan Sarjana Ekonomi Indonesia (ISEI) DIY, Y Sri Susilo, menilai indikator makroekonomi kini menjadi kunci utama dalam mendeteksi potensi gejolak sistemik di tengah keterhubungan pasar keuangan global yang semakin erat.
Menurutnya, keterkaitan antara pasar saham, obligasi, valuta, komoditas, hingga aset digital membuat guncangan kecil dapat dengan cepat menjalar lintas sektor jika tidak diantisipasi sejak dini.
Indikator seperti pergerakan likuiditas global, arah suku bunga acuan, stabilitas nilai tukar, serta ekspektasi inflasi jelas Sri Susilo bisa menjadi sinyal awal yang lebih relevan dibanding hanya melihat fundamental satu sektor atau instrumen tertentu.
“Dalam kondisi sekarang, membaca makro jauh lebih menentukan, karena transmisi antarpasar terjadi sangat cepat dan tidak selalu terlihat dari indikator mikro,” katanya di Yogyakarta, Selasa (7/4).
Dalam situasi intermediasi keuangan global yang kian kompleks, respons terhadap dinamika makro menjadi lebih penting dibanding sekadar mengandalkan kekuatan fundamental ekonomi domestik. Dia pun menekankan bahwa stabilitas sistem keuangan tidak hanya ditopang oleh kinerja sektor riil, tetapi juga oleh persepsi dan ekspektasi pelaku pasar terhadap arah kebijakan ekonomi.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!