Akademisi Ingatkan Pentingnya Bahasa Kepemimpinan di Sektor Publik
📅 Rabu, 08 Apr 2026, 13:15 WIB | Oleh: SriyonoMenurut Rijadh, di sinilah peran kepemimpinan menjadi krusial. “Pemimpin tidak hanya menyampaikan kritik, tetapi juga harus mampu membaca akar masalahnya, yaitu budaya dan insentif yang salah. Dalam konteks ini, kritik seharusnya diarahkan untuk mengubah sistem yang membentuk perilaku, bukan sekadar menyalahkan pelakunya,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa dalam praktik kepemimpinan modern terdapat konsep psychological safety, yaitu kondisi di mana pegawai merasa aman untuk bekerja, menyampaikan gagasan, dan belajar dari kesalahan. Karena itu, jika kritik disampaikan dengan cara yang merendahkan, ruang tersebut justru hilang dan dapat menghambat perbaikan organisasi. “Pemimpin yang efektif adalah yang mampu menyampaikan pesan keras tanpa kehilangan respek. Tegas dalam substansi, tetapi tetap terukur dalam cara penyampaian,” kata Rijadh.
Menurutnya, jika pernyataan seperti itu terus dibiarkan, dampaknya tidak hanya pada moral pegawai muda tetapi juga pada loyalitas organisasi dan kinerja birokrasi secara keseluruhan. Pegawai yang merasa tidak dihargai berpotensi menjadi apatis atau sekadar bekerja secara minimal. “Ketika pegawai terus-menerus dianggap negatif, sebagian bisa menjadi apatis atau tidak peduli. Bahkan bisa muncul efek self-fulfilling, di mana label negatif justru memperkuat perilaku yang ingin dicegah,” ujarnya.
Karena itu, ia menilai pimpinan kementerian seharusnya segera melakukan klarifikasi dan menegaskan bahwa kritik diarahkan pada praktik yang bermasalah, bukan kepada seluruh generasi muda pegawai. “Kepercayaan organisasi tidak dibangun dari pernyataan, tetapi dari tindakan nyata dalam memperbaiki sistem,” Rijadh.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!