Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Kemenko Perekonomian: Pemerintah akan Perkuat Ekosistem Industri Emas Perhiasan

📅 Selasa, 07 Apr 2026, 18:13 WIB | Oleh:
Kemenko Perekonomian: Pemerintah akan Perkuat Ekosistem Industri Emas Perhiasan Doc: Dokumentasi Kemenko Perekonomian
Ket. Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan BUMN Kemenko Perekonomian Ferry Irawan bersama Direktur PT UBS, Eddy Yahya

JAKARTA - Pemerintah menegaskan komitmennya untuk memperkuat ekosistem emas nasional secara terintegrasi. Hal itu dikarenakan industri perhiasan emas memiliki peran strategis tidak hanya berorientasi ekspor tetapi juga menyerap tenaga kerja.

"Pemerintah akan terus mengkonsolidasikan kesinambungan hulu hingga hilir. Sehingga daya saing ekosistem emas secara keseluruhan dapat terus ditingkatkan," kata Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan dan Pengembangan BUMN Kemenko Perekonomian, Ferry Irawan, dalam kunjungan ke PT Untung Bersama Sejahtera (UBS), Senin (6/4).

UBS merupakan salah satu market leader produsen perhiasan emas di Indonesia. Kunjungannya, kata Ferry, untuk memperoleh gambaran langsung kondisi industri perhiasan serta mendiskusikan arah penguatan kebijakan ke depan.

Komoditi emas menjadi komoditi penting di tengah volatilitas harga akibat tensi geopolitik. Sementara emas menjadi salah satu pilihan aset investasi bagi masyarakat Indonesia.

Pada kesempatan tersebut, Direktur PT UBS, Eddy Yahya, menyampaikan apresiasi terhadap berbagai kebijakan pemerintah yang sudah dijalankan. Salah satunya implementasi Bea Keluar emas yang dinilai memberikan dukungan terhadap penguatan industri dalam negeri.

Eddy yang juga Ketua Asosiasi Produsen Perhiasan Indonesia (APPI) menyampaikan, sejumlah masukan strategis kepada pemerintah, khususnya terkait penyempurnaan kebijakan perpajakan dan penguatan struktur pasar emas domestik.

Pemerintah menerima masukan tersebut sebagai upaya bersama menciptakan sistem perpajakan yang lebih efisien. Selain untuk mendukung iklim usaha, serta memperkuat daya saing industri perhiasan nasional secara berkelanjutan.

Menurut Ferry dinamika geopolitik global turut memengaruhi kinerja perdagangan industri perhiasan. Tekanan tersebut juga dirasakan UBS, yang menurut Eddy, ekspornya ke Dubai sebagai pasar utama, mulai mengalami hambatan.

Meski demikian, permintaan emas perhiasan dalam jangka menengah masih positif, khususnya permintaan dalam negeri. "Budaya menabung dan berinvestasi emas di Indonesia telah mengakar kuat, serupa dengan di India," ucap Eddy.

Pelaku usaha emas dan perhiasan, tambahnya, masih optimis permintaan akan kembali membaik, seiring normalisasi kondisi pasar. Karenanya, Eddy menekankan pentingnya penguatan sisi pasokan dalam negeri, diantaranya melalui pengembangan kegiatan usaha bullion.

“Kami berharap kegiatan usaha bullion dapat mendukung ketersediaan bahan baku emas yang lebih efisien dan kompetitif bagi industri,” ujarnya. Karakteristik industri emas perhiasan, lanjut Eddy memiliki keunikan karena mengombinasikan teknologi manufaktur modern.

Kombinasi itu berupa otomasi dan desain digital dengan keterampilan craftsmanship yang membutuhkan ketelitian dan kreativitas tinggi. Dengan demikian menghasilkan produk bernilai tambah tinggi dan berdaya saing global. ils/I-1

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
jakartafair2026

Daerah
Tradisi Sembahyang Jelang R...

Pertumbuhan Jumlah Penduduk Indonesia

1 jam lalu | Fajar Alim M

Ekonomi
Pertumbuhan Jumlah Penduduk...
Ekonomi
Serapan Pekerja di Kawasan ...
Nasional
MK: Pilkada Tetap secara La...

Ketersediaan Pupuk Subsidi Nasional

1.5 jam yang lalu | Fajar Alim M

Ekonomi
Ketersediaan Pupuk Subsidi ...
Luar Negeri
Tiongkok Intensifkan Patrol...
Luar Negeri
Korsel-Ukraina Bahas Tawana...
Shell dan Pertamina Kompak Pangkas Harga BBM Per 1 Juli 2026, Intip Siapa Paling Murah!

Shell dan Pertamina Kompak Pangkas Harga BBM Per 1 Juli 2026, Intip Siapa Paling Murah!

01 Jul 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.