Warga Bandung Disiapkan Kerja Padat Karya dengan Kuota 4.600
📅 Senin, 06 Apr 2026, 13:41 WIB | Oleh: Aloysius WidiyatmakaBANDUNG – Sedikitnya 4.600 warga Bandung dapat ambil bagian dalam program kerja padat karya. Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung, Jawa Barat, menargetkan jumlah tersebut untuk terlibat sebagai upaya memperluas kesempatan kerja dan membantu perekonomian masyarakat yang akan dilaksanakan di 92 titik lokasi.
Kepala Dinas Ketenagakerjaan Kota Bandung Yayan Ahmad Brilyana mengatakan, program padat karya menjadi salah satu strategi untuk membuka lapangan kerja sementara bagi warga yang belum memiliki pekerjaan.
“Tujuannya meningkatkan kesempatan kerja, memberdayakan warga yang tidak bekerja serta memberikan penghasilan, serta menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan,” ujar Yayan di Bandung, Senin.
Yayan menjelaskan, cakupan program ini terus meningkat setiap tahun. Pada 2023, program menyasar 1.840 orang di 46 titik, kemudian meningkat pada 2024 menjadi 4.450 orang di 89 titik.
Selain penyerapan tenaga kerja, program ini juga mencakup pelatihan, termasuk pengolahan sampah yang telah diikuti ratusan peserta.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurutnya, kegiatan padat karya tidak hanya fokus pada pemberian pekerjaan, tetapi juga mendorong pemberdayaan masyarakat dalam menata lingkungan sekitar.
“Program ini terbuka bagi warga ber-KTP Kota Bandung berusia 17 hingga 50 tahun, baik disabilitas maupun non-disabilitas, dengan prioritas bagi yang belum bekerja,” katanya
Peserta mendapatkan fasilitas makan, peralatan kerja, insentif, serta perlindungan melalui BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Pelaksanaan kegiatan berlangsung selama 10 hari kerja dengan durasi delapan jam per hari,” kata dia. Melalui program ini, Pemkot Bandung berharap kesejahteraan masyarakat meningkat sekaligus mendorong partisipasi warga dalam menjaga lingkungan.
Waspada Cuaca Ekstrem
Sementara itu,Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Kelas 1 Bandung, Jawa Barat, minta masyarakat mewaspadai fenomena cuaca ekstrem yang terjadi saat periode peralihan dari musim hujan ke musim kemarau.
Kepala Stasiun Geofisika BMKG Bandung Teguh Rahayu mengatakan periode ini ditandai dengan melemahnya angin baratan dan mulai masuknya angin timuran yang memicu ketidakstabilan atmosfer.
“Fenomena ini biasanya diawali dengan cuaca panas dan gerah, kemudian terjadi hujan lebat secara tiba-tiba disertai petir dan angin kencang,” ujar Teguh di Bandung, Senin.
Teguh mengatakan kondisi tersebut menyebabkan pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) yang cukup masif, sehingga berpotensi menimbulkan hujan lebat, petir, dan angin kencang.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!