Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Percepat Transisi Energi, RUU Ketenagalistrikan Perlu Diperkuat

📅 Selasa, 31 Mar 2026, 09:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Percepat Transisi Energi, RUU Ketenagalistrikan Perlu Diperkuat Doc: ANTARA/ HO-Suryanesia
Ket. Ilustrasi - PLTS atap.

JAKARTA – Penguatan Rancangan Undang Undang (RUU) Ketenagalistrikan menjadi langkah strategis untuk memperkokoh ketahanan energi nasional di tengah meningkatnya tekanan global akibat konflik di Timur Tengah. Gejolak geopolitik tersebut berpotensi mengganggu pasokan energi dan mendorong volatilitas harga, sehingga memperbesar risiko bagi negara yang masih bergantung pada impor energi fosil.

Penguatan regulasi di sektor kelistrikan dapat menjadi instrumen untuk mempercepat transisi energi, meningkatkan keandalan pasokan, serta mengurangi ketergantungan pada energi impor. Dalam konteks ini, listrik diposisikan sebagai tulang punggung sistem energi masa depan yang lebih stabil, efisien, dan berkelanjutan di tengah ketidakpastian global.

Dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) Komisi XII DPR RI bersama Masyarakat Ketenagalistrikan Indonesia (MKI) di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (30/3), Anggota Komisi XII DPR RI Eddy Soeparno menyatakan masukan yang diterima dinilai penting untuk memperkuat pembahasan dan pengesahan RUU Ketenagalistrikan. “Dalam konteks ancaman krisis energi akibat situasi di Timur Tengah, sektor kelistrikan dipandang sebagai kunci dalam meningkatkan ketahanan energi nasional,” katanya.

Eddy Soeparno menilai ketergantungan Indonesia pada impor energi fosil masih tinggi, sehingga penguatan sektor ketenagalistrikan menjadi krusial untuk ketahanan energi di tengah gejolak global. Ia menekankan percepatan transisi energi paling realistis dilakukan melalui listrik, didukung target net zero emission 2060.

RUU Ketenagalistrikan disebut sebagai momentum strategis untuk memperkuat kebijakan energi yang berkelanjutan, termasuk pengembangan PLTS 100 GW dengan dukungan infrastruktur dan keandalan jaringan. Selain itu, elektrifikasi di sektor transportasi, industri, dan rumah tangga dinilai penting untuk meningkatkan efisiensi serta mengurangi ketergantungan pada energi fosil.

Beban Subsidi

Uli Arta Siagian, Koordinator Pengkampanye Eksekutif Nasional Walhi menjelaskan, ketika harga bahan mentah energi (minyak, bahan bakar) meningkat bahkan sulit untuk didapatkan, beban subsidi pemerintah ikut melonjak, sehingga menekan ruang fiskal dalam APBN.

Dampak lanjutannya adalah meningkatnya inflasi, terutama melalui kenaikan biaya transportasi dan logistik yang kemudian merembet ke harga pangan. Selain itu, gangguan rantai pasok global juga berpotensi menyebabkan keterlambatan impor hingga kelangkaan energi dalam jangka pendek.

“Kondisi ini bukan sekadar persoalan ekonomi yang akan berdampak besar bagi rakyat Indonesia, tetapi juga manifestasi dari ketidakseimbangan sistem energi modern dengan daya tampung lingkungan akibat ketergantungan kronis pada energi fosil,"ujar Uli di Jakarta akhir pekan kemarin.

Pengurus negara, papar dia, pasti memakai kondisi ini sebagai alasan untuk mempercepat dan memperluaskan pengembangan energi berbasis bio energi, seperti biodisel, bioetanol, biomassa kayu (co-firing), mengganti seluruh kendaraan ke kendaraan listrik, dan juga terus membangun pembangkitan energi berbasis panas bumi.

Dalam jangkan Panjang dibutuhkan reformasi kebijakan, salah satunya penyusunan RUU Energi Baru dan Energi Terbarukan (EBET) yang secara tegas memprioritaskan energi terbarukan yang berkeadilan dan menutup celah bagi solusi palsu yang memperpanjang ketergantungan pada fosil. 

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Luar Negeri
Serangan Houthi Meningkat, ...

Kesialan Persebaya atau Dewi Fortuna bagi PSM?

31 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Kesialan Persebaya atau Dew...
Olahraga
Mulai 2027, Aturan Pelacaka...
Advertisement
Kronologi Kecelakaan Maut Honda Mobilio Tabrak Pick Up di Rasuna Said, 1 Orang Tewas

Kronologi Kecelakaan Maut Honda Mobilio Tabrak Pick Up di Rasuna Said, 1 Orang Tewas

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.