Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Reindustrialisasi Diperlukan untuk Sasar Revitalisasi Sektor Padat Karya

📅 Senin, 30 Mar 2026, 01:05 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Reindustrialisasi Diperlukan untuk Sasar Revitalisasi Sektor Padat Karya Doc: istimewa
Ket. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat industri pengolahan tumbuh 5,30 persen secara tahunan tahun lalu di mana industri logam dasar menjadi primadona dengan pertumbuhan mencapai 15,71 persen.

JAKARTA - Industri pengolahan Indonesia mencatat pertumbuhan impresif pada 2025. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat industri pengolahan tumbuh 5,30 persen secara tahunan tahun lalu di mana industri logam dasar menjadi primadona dengan pertumbuhan mencapai 15,71 persen. Sementara industri mesin dan perlengkapan mencatat pertumbuhan 13,98 persen.

Subsektor lain yang menunjukkan performa stabil adalah industri kimia, farmasi, obat tradisional, serta industri barang logam, elektronik, dan peralatan listrik.

Lembaga riset NEXT Indonesia Center menyatakan meskipun industri pengolahan tumbuh impresif, sektor padat karya masih menghadapi tekanan besar dan membutuhkan perhatian khusus dari pemerintah.

Direktur Eksekutif NEXT Indonesia Center, Christiantoko, dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Minggu (29/3) menyoroti ketimpangan antar subsektor.

Ia menyebut, adanya sunrise industry yang tumbuh pesat, seperti logam dasar dan mesin, namun sunset industry seperti tekstil, pakaian jadi, kayu, serta karet dan plastik justru tertinggal. Industri karet dan plastik bahkan mengalami kontraksi sebesar 4,07 persen pada 2025.

Menurut dia, kondisi itu patut diwaspadai karena sektor padat karya merupakan penyerap tenaga kerja signifikan.

“Sektor-sektor sunset ini membutuhkan perhatian khusus karena mereka adalah penyerap tenaga kerja besar. Perannya mulai tergerus oleh perubahan rantai pasok global dan persaingan biaya produksi,” paparnya.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan total pekerja di sektor industri pengolahan mencapai 20,3 juta orang pada Agustus 2025, atau berkontribusi 13,86 persen terhadap total tenaga kerja nasional. Jumlah tersebut tumbuh 1,49 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Dari sisi investasi, realisasi di sektor industri pengolahan mencapai 780,9 triliun rupiah pada 2025, naik dari 721,3 triliun rupiah pada 2024. Namun, kontribusi terhadap total investasi nasional justru turun dari 42,08 persen pada 2024 menjadi 40,44 persen pada 2025.

Penurunan itu jelas Christiantoko dipicu oleh stagnasi Penanaman Modal Asing (PMA) di tengah penguatan investasi domestik (PMDN).

Christiantoko menekankan perlunya kebijakan reindustrialisasi yang menyasar revitalisasi sektor padat karya, peningkatan kualitas tenaga kerja, serta pemerataan distribusi investasi agar pertumbuhan industri benar-benar inklusif dan berkelanjutan.

Tidak Optimal

Menanggapi kondisi tersebut, Peneliti Ekonomi Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda mengatakan, salah satu yang pendorongnya memang dari sisi sektor yang berkaitan dengan hilirisasi dan juga impor mesin.

Sektor industri pengolahan logam dasar menjadi sektor dengan pertumbuhan sektoral tertinggi dengan angka 15,71 persen. Kemudian sektor mesin dan perlengkapan juga semu karena ada importasi mesin besar-besaran di tahun 2025 yang menyebabkan pertumbuhan industri mesin dan perlengkapan meningkat pesar.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Daerah
Belajar merangkai kain bati...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.