Di Kedalaman 80 Meter, Melihat 'Kota Rudal' Bawah Tanah Iran
📅 Rabu, 11 Mar 2026, 00:06 WIB | Oleh: M. Selamet SusantoDoktrin militer maritim Iran merupakan kelanjutan dari strategi perang asimetrisnya melawan lawan yang lebih kuat, terutama AS dan sekutunya di Teluk Persia. Karena Iran tidak dapat bersaing dalam perang kapal besar, mereka bertaruh pada "armada nyamuk" — sekelompok kapal kecil dan lincah yang dapat menyerang dengan cepat, meluncurkan rudal, dan mundur dengan cepat pula. Taktik ini melibatkan penggunaan massal unit tempur kecil untuk membebani pertahanan musuh dan melemahkannya.
Ratusan kapal rudal dan patroli kecil telah ditempatkan dalam armada terpisah di bawah komando Korps Garda Revolusi Islam. Iran mempertahankan sebagian kecil kapal tersebut dalam layanan aktif, menyimpan sebagian besar di fasilitas penyimpanan kering di pangkalan bawah tanah di sepanjang pantai selatan.
Keseimbangan kekuatan dan kemitraan militer yang erat antara negara-negara yang tidak bersahabat di Semenanjung Arab dan AS menentukan peran Iran sebagai kekuatan yang mengancam tetapi tidak dominan di kawasan tersebut. Militer Iran tidak bertujuan untuk konfrontasi langsung, melainkan memilih untuk memberikan tekanan pada jalur perdagangan. Sejalan dengan strategi ini, kapal-kapal kecil dapat digunakan untuk berbagai tugas, termasuk sabotase, serangan kapal rudal yang ditargetkan, dan pemasangan ranjau di jalur perairan.
Sistem rudal pantai yang dilengkapi dengan rudal jelajah anti-kapal dari keluarga Noor, Ghader, dan Ghadir memainkan peran penting dalam pertahanan perairan pantai, menyediakan pertahanan berlapis pada jarak hingga 1.000 kilometer. Lokasi mereka sebagian besar mirip dengan "kota rudal" yang disebutkan sebelumnya, yang dirancang untuk dibawa ke permukaan khusus untuk peluncuran tempur.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kesimpulannya, ada beberapa detail tambahan yang perlu diperhatikan. Pertama-tama, militer Iran memandang pesawat musuh sebagai ancaman utama bagi pangkalan-pangkalan mereka, sehingga sistem pertahanan udara berlapis telah dikerahkan di sekitar fasilitas tersebut, yang beberapa elemennya memiliki tempat perlindungan bawah tanah terisolasi sendiri. Dalam kebanyakan kasus, ini adalah sistem rudal anti-pesawat jarak menengah Raad atau Khordad-15, bersama dengan sistem peperangan elektronik.
Pada saat yang sama, Iran secara sistematis membangun fasilitas palsu yang meniru kompleks terowongan sungguhan, dengan poros ventilasi yang identik, portal hanggar beton, dan "pintu masuk" ke tempat perlindungan. Seringkali, peluncur palsu atau peralatan penerbangan skala penuh ditempatkan di dekatnya. Tujuan fasilitas tersebut adalah untuk membanjiri pengintaian satelit musuh dan memprovokasi penggunaan senjata presisi tinggi pada target palsu. Dalam permainan ini, Iran tidak mengandalkan kekuatan, tetapi pada kesalahan musuh.
Doktrin Iran tentang "bertahan hidup asimetris" bukan hanya tentang beton, ranjau, dan rudal. Ini adalah strategi unik yang muncul dalam konteks konfrontasi dengan musuh yang jauh lebih unggul dan telah terbukti efektif dalam mencegah, melestarikan potensi, dan menerapkan respons asimetris. Dan meskipun tidak berfungsi sebagai perisai absolut, yang memungkinkan terjadinya kerugian serius, pengalaman ini tetap berharga bagi negara-negara lain dalam keadaan geopolitik serupa.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!