Sejarah Kelam yang Berubah Cahaya, Kampung Maksiat di Kota Tepian Kini Jadi Simbol Adab
📅 Minggu, 22 Feb 2026, 17:10 WIB | Oleh: Yebdi Trismar
Doc: Antara Foto
Tempo dulu, sebuah monumen berdiri dengan beragam kisah nan filosofis. Ceritanya bahkan menembus era dari generasi ke generasi, sarat dengan nilai-nilai moral, terlebih jikalau bangunan itu berdiri awet dan terus dimakmurkan hingga kini.
Nilai moral semacam itu lah yang selalu terpatri di balik bangunan rumah ibadah tertua di Kota Samarinda. Masjid Shirathal Mustaqiem adalah narator dalam ceritera kampung maksiat yang menjelma jadi pusat peribadatan dan adab masyarakat Kota Tepian.
Kawasan yang kini dikenal sebagai Kampung Mesjid Samarinda Seberang itu pada penghujung abad ke-19 bukanlah sebuah tempat untuk merapalkan doa. Riwayat tutur masyarakat setempat secara turun-temurun mengisahkan bahwa area tersebut pernah menjadi pusat kemelut moral.
"Sabung ayam, perjudian, dan berbagai aktivitas yang jauh dari nilai-nilai agama menjadi denyut nadi kehidupan sehari-hari warganya. Tempat ini dulunya adalah kampung maksiat yang pekat tenggelam dalam ingar-bingar hawa nafsu duniawi," kata Mazbar, Ketua Kelompok Sadar Wisata Masjid Shirathal Mustaqiem Samarinda, saat berbincang di area masjid tersebut.
Dari kisah masa silam, sebuah karomah dan tekad dari seorang ulama pendatang perlahan menyibak kabut gelap itu, mengubah sebuah sarang maksiat menjadi pusat cahaya ibadah yang cahayanya masih benderang hingga hari ini.
Sebaiknya Anda baca juga:
Legenda ini berpusat pada sosok karismatik bernama Said Abdurachman bin Assegaf atau digelar sebagai Pangeran Bendahara. Ia adalah seorang bangsawan, pendakwah, sekaligus saudagar muslim keturunan Arab yang berasal dari Kesultanan Pontianak, Kalimantan Barat.
Mengarungi pesisir Kalimantan dan menyusuri sungai-sungai besar, kapalnya akhirnya berlabuh di wilayah kekuasaan Kerajaan Kutai Kartanegara ing Martadipura.
Pada awalnya, Samarinda Seberang hanyalah pelabuhan persinggahan dan tempat tinggal sementara bagi Said Abdurachman. Tujuannya murni berniaga, membawa barang dagangan dan mencari penghidupan di rute perdagangan Nusantara yang tengah ramai oleh kapal-kapal asing maupun lokal.
Selama menetap dan berinteraksi langsung dengan penduduk setempat, mata batin Said Abdurachman menangkap sebuah realitas yang menggugah nuraninya. Di balik pekatnya kemaksiatan yang menyelimuti kampung tersebut, ia melihat secercah harapan. Sang ulama menyadari bahwa posisi Samarinda Seberang sebenarnya sangat strategis, sebuah urat nadi perdagangan yang memiliki potensi raksasa sebagai pusat penyebaran dan syiar agama Islam di tanah Kutai.
"Niat murni untuk berdagang perlahan bergeser menjadi panggilan jiwa. Said Abdurachman memutuskan untuk menetap. Bukan lagi sekadar untuk berniaga, melainkan untuk mengembangkan syiar dan kajian cendekia Islam di tengah masyarakat yang tengah tersesat kala itu," tutur Mazbar.
Gelar Pangeran Bendahara
Mengubah kebiasaan masyarakat yang sudah mendarah daging tentu bukan perkara mudah. Akan tetapi, karomah seorang ulama sejati tidak selalu termanifestasi dalam keajaiban yang melanggar hukum alam, melainkan pada kemampuannya melunakkan hati-hati yang mengeras bak batu.
Dengan pendekatan humanis, keteladanan akhlak, dan kajian dakwah yang menyejukkan akal, Said Abdurachman perlahan mulai merangkul masyarakat.
Ketekunan dan ketaatannya yang tanpa kompromi dalam menjalankan syariat Islam membuatnya dengan cepat ditokohkan oleh masyarakat setempat. Para pelaku maksiat perlahan-lahan meninggalkan arena sabung ayam dan mulai duduk bersila mendengarkan petuah agama.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!