Sejarah Kelam yang Berubah Cahaya, Kampung Maksiat di Kota Tepian Kini Jadi Simbol Adab
📅 Minggu, 22 Feb 2026, 17:10 WIB | Oleh: Yebdi TrismarDalam pajangan tulisan muka masjid yang divalidasi pemerintah setempat, kabar tentang ulama yang berhasil membawa kedamaian di Samarinda Seberang ini akhirnya sampai ke telinga penguasa Kerajaan Kutai saat itu, Sultan Aji Muhammad Sulaiman. Menyadari besarnya pengaruh positif sang ulama bagi kestabilan dan moralitas rakyatnya, pada tahun 1880, Sultan Kutai memberikan pengakuan resmi yang luar biasa.
Said Abdurachman Assegaf diangkat sebagai Kepala Adat dan Agama Samarinda Seberang, dan dianugerahi gelar kehormatan yang disandang hingga akhir hayatnya: Pangeran Bendahara.
Said Abdurachman dengan senang hati menerima pengangkatan dan gelar tersebut. Bagi Pangeran Bendahara, jabatan ini bukanlah sebuah kebanggaan duniawi, melainkan sebuah amanah suci.
Ia meyakini bahwa dengan kewenangan sebagai Kepala Adat dan Agama, ia akan lebih leluasa dan memiliki payung hukum untuk melaksanakan syiar Islam. Banyak hal yang menurut catatan dia harus segera dibenahi, terutama dalam meluruskan masalah keagamaan yang masih melenceng.
Sebaiknya Anda baca juga:
Masjid Shiratal Mustaqiem
Dalam proses pembenahan moral masyarakat tersebut, Pangeran Bendahara menyadari satu kendala besar, yakni kurangnya sarana peribadatan yang memadai untuk menampung jamaah yang kian hari kian membesar. Dalam pikiran dia, tak akan mungkin membangun peradaban umat tanpa sebuah pusat pijakan spiritual.
"Kondisi inilah yang kemudian membuat Pangeran Bendahara menyuarakan ide besar untuk membangun sebuah masjid di Samarinda Seberang dan wilayah sekitarnya. Visi tersebut segera diwujudkan dengan peletakan batu pertama pembangunan Masjid Shiratal Mustaqiem," Mazbar mengisahkan.
Masjid Shirathal Mustaqiem didirikan pada tahun 1881. Secara filosofis, lokasi masjid ini didirikan tepat di lahan yang dulunya sering digunakan sebagai arena perjudian, sebuah langkah berani untuk membersihkan tanah maksiat menjadi tempat sujud kepada Ilahi.
Sepeninggal Pangeran Bendahara, semangat untuk merawat dan membangun rumah Allah ini tidak lantas meredup. Tongkat estafet pembangunan masjid kemudian dilanjutkan oleh tokoh setempat bernama Kapitan Jaya. Kehidupan beragama di Samarinda Seberang terus tumbuh pesat, menciptakan lingkungan yang kondusif, religius, dan damai.
Kini, lebih dari satu abad telah berlalu. Masjid Shiratal Mustaqiem tetap berdiri kokoh bersahaja di Kelurahan Mesjid, Samarinda Seberang. Bangunan ini bukan sekadar cagar budaya tertua di Kota Samarinda, melainkan monumen dari sebuah perjuangan dan karomah ulama besar.
Hikayat Pangeran Bendahara Said Abdurachman bin Assegaf adalah bukti sejarah yang tak terbantahkan. Bahwa dengan kesabaran, ilmu, dan keikhlasan, sebuah wilayah yang dulunya diwarnai pekatnya kemaksiatan, sabung ayam, dan perjudian, diubah menjadi pusat ibadah yang diharumkan oleh lantunan ayat suci.
Menara segi delapan setinggi 21 meter itu masih berdiri tegap, menyatu dengan masjid yang telah ditetapkan menjadi Cagar Budaya Nasional. Gema azan dari menara masjid itu seakan terus mengingatkan warga Samarinda bahwa tidak ada hati yang terlalu keras untuk menerima hidayah, dan tidak ada kampung yang terlalu kelam untuk disinari oleh cahaya iman.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!