BEI: Separuh Lebih Transaksi Harian Kini di Tangan Investor Ritel
📅 Kamis, 12 Feb 2026, 18:05 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA FOTO/ Hafidz Mubarak
JAKARTA – Kontribusi investor ritel yang semakin besar dalam transaksi harian pasar modal mencerminkan pendalaman basis investor domestik sekaligus meningkatnya literasi keuangan masyarakat.
Kehadiran ritel memberi likuiditas tambahan dan membantu meredam ketergantungan pasar pada aliran dana asing.
Namun, dominasi ritel juga membawa tantangan tersendiri, terutama meningkatnya volatilitas jangka pendek akibat perilaku spekulatif dan sentimen media sosial, sehingga penguatan edukasi investasi dan perlindungan investor menjadi krusial agar partisipasi ritel benar-benar menopang stabilitas pasar secara berkelanjutan.
PT Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat kontribusi investor ritel mencapai 52 persen dari total rata-rata nilai transaksi harian pasar modal sepanjang 2026 hingga saat ini (year to date/ytd), dengan nilai perdagangan ritel sekitar Rp16 triliun per hari.
“(Investor) asing berkontribusi kira-kira 30 persen (terhadap transaksi harian) dan selebihnya adalah institusi domestik kita,” kata Pjs. Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik dalam acara Economic Outlook 2026 di Jakarta, Kamis (12/2).
Sebaiknya Anda baca juga:
Pada 2026 hingga saat ini, catat Jeffrey, total rata-rata nilai transaksi harian di bursa mencapai sekitar Rp32 triliun per hari. Adapun sepanjang 2025, rata-ratanya tercatat sebesar Rp18,1 triliun per hari.
Sejalan dengan peningkatan aktivitas tersebut, Jeffrey menyebutkan jumlah investor ritel per 11 Februari 2026 mencapai 21,3 juta.
Sejak awal tahun hingga 11 Februari 2026, terdapat penambahan sebanyak 1,3 juta investor baru. Adapun pada 2025, total penambahan investor tercatat sebanyak 5,4 juta.
Sebaiknya Anda baca juga:
Terkait rencana penyesuaian ketentuan free float menjadi minimal 15 persen, BEI menyadari adanya kekhawatiran terkait potensi tekanan dari sisi pasokan (supply) saham di pasar.
Oleh sebab itu, ujar Jeffrey, pihaknya menyatakan telah mengkaji berbagai dampak yang mungkin timbul agar implementasinya tetap terkelola dengan baik.
Dari total 956 perusahaan tercatat di bursa, sebanyak 268 emiten saat ini masih memiliki free float di bawah 15 persen. Namun jika difokuskan pada 49 perusahaan di antaranya, Jeffrey mengatakan kelompok ini telah mewakili sekitar 90 persen kapitalisasi pasar dari keseluruhan emiten yang belum memenuhi batas tersebut.
“Bagaimana 49 perusahaan ini bisa kita atur dengan baik supaya pasar kita tetap imbang. Oleh karena itu, kami menyediakan hot desk untuk perusahaan-perusahaan tercatat bisa berdiskusi dengan kami bagaimana timing-nya disesuaikan dengan kondisi pasar supaya mereka bisa menambahkan float di pasar tetapi tidak akan mengganggu kestabilan pasar,” jelas dia.
Di sisi lain, BEI juga memperhitungkan potensi permintaan (demand) yang dinilai terus meningkat. Pertumbuhan jumlah investor ritel yang signifikan disertai kenaikan aset investor ritel menjadi salah satu penopang permintaan di pasar.
Selain itu, dukungan pemerintah yang memberikan ruang lebih besar bagi institusi domestik untuk berinvestasi di pasar modal hingga 20 persen juga dinilai menjadi sumber permintaan tambahan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!