Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Piala Dunia 2026 Dibayangi Kekhawatiran dan Ketakutan

📅 Senin, 09 Feb 2026, 08:43 WIB | Oleh:

Kekhawatiran ini mengemuka setelah dunia menyaksikan langkah pemerintah AS dalam memburu imigran gelap dengan cara yang justru memicu kontroversi dan penolakan publik di dalam negerinya sendiri.

Selaras dengan janji politiknya selama kampanye Pemilu 2024, Trump berusaha menerapkan kebijakan imigrasi yang super-keras.

Ujung tombak untuk menerapkan kebijakan imigrasi super-keras ini adalah Immigration and Customs Enforcement (ICE). Tugas ICE sebenarnya mulia, yakni mengadakan penyelidikan kriminal, menegakkan aturan imigrasi, menjaga keamanan nasional, dan melindungi keselamatan publik.

Namun belakangan tindakan ICE dalam menjalankan kebijakan imigrasi Trump dianggap berlebihan dan melanggar hukum, sampai menembak mati dua warga sipil AS yang tak memiliki catatan kriminal.

Para petugas ICE bisa menggeledah dan menangkap siapa pun, tanpa surat perintah dari pengadilan.

Banyak warga AS yang mengeluhkan ICE, termasuk warga AS penyandang disabilitas keturunan Bangladesh bernama Aliya Rahman.

Baru-baru ini Rahman bersaksi dalam dengar pendapat di DPR Amerika Serikat bahwa tindakan ICE sudah melampaui batas, sampai warga negara difabel seperti Rahman pun diperlakukan bak tersangka penjahat.

Video kesaksian Rahman itu viral dalam platform-platform berbagi video, ditanggapi serius oleh netizen mancanagara.

Mereka semakin beranggapan bahwa saat ini adalah masa yang tidak tepat untuk bepergian ke AS karena bisa-bisa menjadi sasaran kebijakan imigrasi Trump.

Di antara yang khawatir adalah calon penonton Piala Dunia 2026, yang akan menyaksikan pertandingan-pertandingan Piala Dunia 2026 yang diadakan di AS.

Padahal 78 dari total 104 pertandingan Piala Dunia 2026, akan digelar di AS, termasuk semua laga perempat final, semifinal dan final.

Kekhawatiran sejumlah warga global itu berkorespondensi dengan pandangan sebagian pegiat HAM di AS, apalagi setelah muncul kabar pemerintah AS mengerahkan para petugas penegakan hukum imigrasi ke venue-venue Piala Dunia 2026 di AS.

Para aktivis HAM mengkhawatirkan sepak terjang badan-badan penegakan hukum seperti ICE akan membuat kota-kota di AS penyelenggara Piala Dunia 2026, tidak ramah kepada pendatang, atau lebih parah dari sekadar tak ramah kepada tamu.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
injourney
Advertisement
astra2

Kerugian Besar Bangsa, Rumah Adat Sade Terbakar

2 jam lalu | Aloysius Widiyatmaka

Daerah
Kerugian Besar Bangsa, Ruma...

Piala Super Jerman Jatuh ke Tangan Muenchen

2 jam lalu | Aloysius Widiyatmaka

Olahraga
Piala Super Jerman Jatuh ke...
Daerah
Program-program Unggulan Go...
Kemenekraf dan BI Perkuat Kolaborasi Pacu Pelaku Ekraf Naik Kelas

Kemenekraf dan BI Perkuat Kolaborasi Pacu Pelaku Ekraf Naik Kelas

22 Aug 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.