Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Rantai Makanan Rusak, Harimau Terancam Masuk Permukiman dan Kehilangan Mangsa

📅 Minggu, 23 Agu 2026, 06:45 WIB | Oleh: Tim Penulis
Rantai Makanan Rusak, Harimau Terancam Masuk Permukiman dan Kehilangan Mangsa Doc: Antara
Ket. Ilustrasi - Satu individu harimau sumatera sedang berada di kandang jebak BKSDA Sumbar di Kampuang Tengek, Jorong Palimbatan, Nagari Pasia Laweh, Kecamatan Palupuh, Kabupaten Agam, Selasa (11/8).

Bandung - Pendiri Taman Safari Indonesia (TSI) Tony Sumampau mengajak masyarakat memahami pentingnya menjaga rantai makanan sebagai bagian dari upaya melestarikan satwa liar, termasuk menyelamatkan populasi harimau.

“Bagaimana mau selamatkan harimau kalau rantai makanannya tak ada,” kata Tony dalam acara Orientasi Wartawan Konservasi Satwa Liar (Owaka) yang digagas Forum Konservasi Satwaliar Indonesia (Foksi) di Cisarua, Bogor, Jawa Barat, Sabtu (22/8).

Tony menjelaskan harimau memangsa babi hutan sebagai salah satu sumber makanannya. Namun, perburuan babi hutan oleh manusia dapat mengganggu rantai makanan dan membuat harimau kehilangan sumber pakan di habitatnya.

Kondisi tersebut dapat mendorong harimau mendekati permukiman untuk mencari makanan, termasuk memangsa ternak atau hewan peliharaan warga seperti ayam dan anjing.

“Bahkan kemudian harimau itu tertular penyakit dari anjing dan ayam,” ujarnya.

Menurut Tony, persoalan serupa juga dapat terjadi pada satwa endemik seperti babi rusa dan anoa yang populasinya harus dilindungi. Perburuan terhadap satwa tersebut antara lain dipicu masih terbatasnya pemahaman masyarakat mengenai pentingnya menjaga spesies yang dilindungi.

Selain harimau dan satwa endemik lainnya, Tony menyoroti keberadaan burung ekek Sunda atau ekek geling Jawa (Cissa thalassina) yang berasal dari kawasan Gunung Pangrango, Jawa Barat.

Ia menyebut keberadaan burung tersebut kini nyaris tidak ditemukan lagi di habitat aslinya.

“Bisa dikatakan keberadaan burung ini sudah nyaris punah karena tidak bisa ditemukan lagi di Gunung Pangrango,” katanya.

Tony menyayangkan perburuan terhadap burung endemik tersebut yang kemudian dimanfaatkan sebagai burung master untuk melatih suara burung kicau lainnya.

Menurut dia, ekek Sunda memiliki tingkat stres yang tinggi sehingga tidak mampu bertahan lama ketika dipelihara sebagai burung master.

“Burung ini stresnya cepat hingga nyawanya tidak lama setelah menjadi burung master,” ujarnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
IndoBuildTech Expo Detail Sidebar
Ekonomi
Harga Kambing Merosot di Te...

Mengupas Isi Buku “Juru Bicara”

2 jam lalu | Fajar Alim M

Nasional
Mengupas Isi Buku “Juru B...
Advertisement
11 Event Jakarta September 2026 Wajib Masuk List, Ada Festival Dessert hingga Konser Musik

11 Event Jakarta September 2026 Wajib Masuk List, Ada Festival Dessert hingga Konser Musik

11 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.