Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Fenomena Whip Pink dan FOMO di Kalangan Remaja, Ini Penjelasan Psikolog

📅 Jumat, 30 Jan 2026, 08:30 WIB | Oleh:
Fenomena Whip Pink dan FOMO di Kalangan Remaja, Ini Penjelasan Psikolog Doc: antara foto
Ket. Ilustrasi fenomena gas tertawa di kalangan remaja

JAKARTA - Psikolog Cakra Medika Ayu S. Sadewo, S.Psi., mengatakan remaja sering mengikuti tren karena kebutuhan diterima teman sebaya dan rasa takut ketinggalan, atau fear of missing out (FOMO).

“Yang penting bagi mereka adalah diterima. Risiko sering kali tidak menjadi pertimbangan utama. Ketika ada tren yang dianggap populer, muncul rasa kalau tidak ikut berarti ketinggalan atau tidak nyambung,” ujar Ayu , Rabu (28/1).

Selain kebutuhan akan penerimaan, rasa ingin tahu mendorong remaja mencoba hal-hal baru. Tren yang ramai dibicarakan sering dianggap bagian dari proses memahami diri sendiri dan menentukan pilihan.

“Masa remaja saat seseorang ada dalam fase mencari identitas. Di usia ini, penerimaan orang lain jadi faktor yang penting bagi mereka – dianggap keren, dianggap seru, dianggap ‘sama’,” tambah psikolog lulusan Universitas Indonesia itu.

Fenomena ini terlihat pada tren gas tertawa atau whip pink yang belakangan ramai dibicarakan di media sosial. Gas tertawa adalah nitrous oxide (NO2), zat yang biasanya digunakan secara medis sebagai anestesi, tetapi disalahgunakan secara rekreasional karena menimbulkan efek euforia sesaat.

Sementara Whip pink adalah salah satu merek tabung nitrous oxide yang sering muncul dalam perbincangan tersebut.

Kepopuleran tren ini mencuat setelah kematian pemengaruh sekaligus kreator konten Lula Lahfah dikaitkan oleh warganet dengan penggunaan gas tersebut, meski hingga kini penyebab kematian belum dipastikan pihak berwenang.

Ayu menekankan, banyak remaja sebenarnya tidak sepenuhnya memahami dampak tren yang diikuti. Fokus mereka lebih pada validasi sosial, merasa diakui, dan diyakini mampu mengambil keputusan sendiri seperti teman-temannya.

Fenomena whip pink menjadi peringatan tentang bagaimana tren di media sosial dapat memengaruhi perilaku remaja, sekaligus menekankan pentingnya pemahaman risiko sebelum mengikuti sesuatu yang populer. 

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pertamina dan Jababeka Berkolaborasi Menuju Kawasan Hijau dan Nol Emisi
    Melihat tren positif pemasangan infrastruktur panel surya yang ...
  • Kemenperin Pacu Industri Halal Tembus Pasar Global Lewat Halal Indo 2026
    Langkah mendorong penyerapan 60 persen vendor lokal di ...
  • Bukan Sekadar Ekspor, Industri Pangan Indonesia Kejar Posisi di Rantai Nilai Global
    Ulasan yang sangat komprehensif mengenai posisi manufaktur Indonesia ...
  • Industri Besar di Kaltim Didorong Wajib Serap 60 Persen Vendor dan UMKM Lokal.
    Langkah Komisi VII DPR RI dalam mendorong regulasi ...
  • Indonesia Kantongi 5 Medali Asian Games
    persaingan ketat, mungkinkah kontingen Indonesia bisa masuk 3 ...

BPBD Imbau Warga Kota Tangerang Tak Bakar Sampah

47 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Megapolitan
BPBD Imbau Warga Kota Tange...
Luar Negeri
Zelenskyy Ingin Temui PM Je...

Kemenkes Siagakan Ribuan Nakes Imbas Karhutla

59 menit yang lalu | Ilham Sudrajat

Nasional
Kemenkes Siagakan Ribuan Na...
Luar Negeri
CEO Nvidia: Ada Peluang AI ...
Advertisement
Mundur dari Kepengurusan Golkar, Nusron Wahid Bungkam soal Alasannya

Mundur dari Kepengurusan Golkar, Nusron Wahid Bungkam soal Alasannya

21 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.