Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Bangkit dari Bencana, UMKM Ikan Bilih Tanah Datar Kembali Bergerak

📅 Minggu, 25 Jan 2026, 22:10 WIB | Oleh: Tim Penulis
Bangkit dari Bencana, UMKM Ikan Bilih Tanah Datar Kembali Bergerak Doc: ANTARA/Muhammad Zulfikar
Ket. Pekerja UMKM ikan bilih goreng menunjukkan ikan bilih yang siap dijual ke sejumlah pusat oleh-oleh di Kabupaten Tanah Datar, Minggu (25/1/2026).

TANAH DATAR – Aroma ikan bilih yang digoreng garing kembali mengepul dari dapur-dapur kecil di Tanah Datar. Bagi para pelaku usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) penggorengan ikan bilih—ikan endemik kebanggaan Danau Singkarak—hari-hari belakangan terasa lebih sibuk dari biasanya.

Bukan tanpa sebab, pascabanjir bandang yang melanda akhir November 2025, pasokan ikan dari nelayan justru datang lebih melimpah.

Setiap pagi, keranjang-keranjang berisi bilih segar berdatangan. Nelayan yang kembali melaut setelah air surut membawa hasil tangkapan lebih banyak, seolah danau memberi napas baru setelah bencana.

Bagi pelaku UMKM, kondisi ini menjadi kesempatan sekaligus tantangan—stok melimpah harus segera diolah agar tak terbuang.

Di balik suara minyak mendesis, terselip cerita ketahanan warga. Bencana yang sempat memukul sendi ekonomi perlahan dijawab dengan kerja keras dan gotong royong.

Dari tangan nelayan ke wajan UMKM, ikan bilih kembali menggerakkan roda ekonomi kecil yang sempat tersendat.

Bagi mereka, bilih bukan sekadar lauk khas Minangkabau. Ia adalah sumber penghidupan, penopang keluarga, dan simbol bahwa kehidupan di sekitar Danau Singkarak selalu menemukan cara untuk bangkit—bahkan setelah air bah datang menerjang.

"Alhamdulillah, setelah galodo (banjir bandang) pasokan ikan dari nelayan meningkat pesat," kata pemilik UMKM penggorengan ikan bilih, Nasir di Nagari Guguak Malalo, Kecamatan Batipuh Selatan, Minggu (25/1).

Nasir mengatakan dalam beberapa hari terakhir ia bahkan menerima pasokan ikan endemik tersebut hingga 200 kilogram. Jumlah itu meningkat drastis dari hari biasanya yang hanya berkisar 10 hingga 15 kilogram.

Di awal-awal bencana terjadi, ia sempat tidak menerima pasokan ikan dari para nelayan sekitaran Danau Singkarak karena kualitas ikan yang kurang bagus. Sebab, beberapa kali ikan yang diterima dari nelayan, daging ikan terasa agak pahit setelah digoreng.

Kini, dua bulan setelah bencana berlalu kualitas ikan bilih hasil tangkapan nelayan di Danau Singkarak sudah kembali bagus dan terasa gurih. Ia menduga hal tersebut bisa saja dipengaruhi oleh aliran sungai yang tercemar akibat banjir bandang.

Nasir mengaku produksi UMKM ikan bilih goreng miliknya tidak hanya dijual di sekitaran Danau Singkarak tetapi sudah menyasar ke Kota Payakumbuh, Kota Dumai hingga Depok, Provinsi Jawa Barat.

Untuk harga beli dan jual ikan bilih tergantung kepada ketersediaan ikan dari para nelayan. Jika pasokan sedang banyak, ia menebus Rp50 ribu hingga Rp60 ribu per kilogram dari nelayan.

Namun, jika hasil tangkapan nelayan tidak begitu banyak atau ikan sulit didapatkan, maka harga beli ke nelayan bisa mencapai Rp100 ribu per kilogram. Kondisi tersebut akan berdampak langsung kepada nilai jual ikan bilih goreng di sejumlah pusat oleh-oleh.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Luar Negeri
Hendak Terbang, Warga AS Di...
Luar Negeri
Pilpres Kolombia Diinterven...
Luar Negeri
PBB Mendesak Transpransi Je...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Menkeu Sebut Rupiah Rp18.000 Masih dalam Perhitungan Pemerintah

Menkeu Sebut Rupiah Rp18.000 Masih dalam Perhitungan Pemerintah

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.