WEF 2026: Kadin Tegaskan Elektrifikasi Jadi Pondasi Ekonomi Masa Depan
📅 Jumat, 23 Jan 2026, 16:15 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/HO-Kadin
JAKARTA – Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia menekankan bahwa elektrifikasi bukan sekadar soal energi, tetapi fondasi bagi pertumbuhan ekonomi, inovasi industri, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Pernyataan ini disampaikan dalam forum bergengsi World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss, di mana Kadin menyoroti pentingnya mempercepat akses energi listrik untuk mendukung transformasi industri, meningkatkan produktivitas, serta membuka peluang bisnis baru yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif.
Dengan kata lain, memperkuat elektrifikasi di Indonesia berarti menyiapkan landasan bagi ekonomi masa depan yang lebih dinamis dan berkelanjutan.
“Bagi Indonesia, elektrifikasi benar-benar menjadi kunci bagi pertumbuhan, inovasi industri, dan juga kesejahteraan masyarakat,” ujar Ketua Umum Kadin Anindya Bakrie dalam pernyataan diterima di Jakarta, Jumat (23/1).
Dia dalam diskusi panel bertajuk Rise of Electro States yang digelar di sela rangkaian WEF 2026, Kamis (22/1) menjelaskan, dengan jumlah penduduk sekitar 285 juta jiwa yang didominasi usia produktif, serta pertumbuhan ekonomi rata-rata 5 persen selama tiga dekade terakhir, elektrifikasi menjadi fondasi penting bagi pembangunan nasional.
Sebaiknya Anda baca juga:
Adapun saat ini, kapasitas listrik terpasang di Indonesia telah mencapai sekitar 100 gigawatt dengan tingkat konektivitas jaringan listrik sebesar 99 persen yang menjangkau sekitar 17.000 pulau.
Namun demikian, Anindya mengungkapkan masih terdapat tantangan dalam pemerataan akses listrik, mengingat sekitar 1 persen wilayah Indonesia yang mencakup kurang lebih 10.000 desa dan 1 juta rumah tangga belum sepenuhnya menikmati pasokan listrik yang andal.
“Kendala penyediaan jaringan menjadi isu krusial, seiring upaya Indonesia untuk meningkatkan kapasitas listrik sekaligus memastikan kualitas layanan bagi masyarakat,” ungkapnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Meski demikian, katanya, kondisi tersebut juga membuka peluang besar, karena Indonesia memiliki keunggulan strategis dari sisi demografi maupun sumber daya alam, termasuk cadangan nikel terbesar di dunia, serta cadangan tembaga dan silika yang signifikan.
Potensi ini mendukung agenda hilirisasi industri sekaligus menjaga keterjangkauan energi, karena meskipun menjadi ekonomi ke-16 terbesar dunia, pendapatan per kapita Indonesia berada di kisaran 5.000 dolar AS.
Anindya juga menekankan pentingnya kolaborasi internasional dalam pengembangan teknologi dan talenta, sambil menegaskan posisi Indonesia sebagai negara nonblok yang terbuka untuk bekerja sama secara setara dan saling menguntungkan.
“Indonesia adalah negara nonblok dan non-aligned, sehingga kami dapat bekerja sama dengan berbagai pihak. Namun kolaborasi tersebut harus saling menguntungkan dan tidak menimbulkan ketergantungan,” ujarnya.
Selain itu, konsistensi dan keberlanjutan kebijakan pemerintah disebut menjadi faktor krusial. Pemerintah melalui PT PLN (Persero) telah menetapkan rencana penambahan 75 gigawatt kapasitas listrik baru dalam 15 tahun ke depan, dengan 75 persen di antaranya berasal dari energi terbarukan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!