Benteng Keraton Buton, Warisan Maritim dan Pusat Peradaban Nusantara
📅 Jumat, 23 Jan 2026, 06:54 WIB | Oleh: Haryo BronoKini, Malige dimanfaatkan sebagai museum sejarah dan budaya Buton. Masyarakat dapat melihat bagaimana benteng dan kehidupan masyarakat Buton di masa lalu, lengkap dengan budaya maritimnya yang kuat.
Sementara itu, Masjid Agung Kesultanan berfungsi sebagai sentra keagamaan. Terletak di jantung kawasan benteng, tempat ini menjadi pusat kegiatan spiritual. Masjid tersebut menjadi tempat ibadah Sultan, bangsawan, dan masyarakat, sekaligus pusat penyebaran nilai-nilai Islam yang berpadu dengan hukum adat Buton.
Baruga difungsikan sebagai tempat musyawarah adat. Balai pertemuan ini digunakan sebagai lokasi sidang hukum adat dan pengambilan keputusan politik. Bangunan tersebut mencerminkan kuatnya tradisi musyawarah serta tata kelola pemerintahan berbasis adat dalam struktur Kesultanan Buton.
Bangunan lainnya adalah rumah bangsawan dan pejabat kerajaan. Di dalam benteng yang luas itu juga terdapat permukiman bangsawan dan pejabat tinggi kerajaan. Rumah-rumah ini menunjukkan bahwa kawasan benteng tidak hanya menjadi pusat militer, tetapi juga lingkungan elite pemerintahan dan keluarga kerajaan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Seperti bangunan benteng kolonial, Benteng Keraton Buton juga memiliki bastion dan pos jaga sebagai infrastruktur pertahanan. Bastion dan pos pengawasan dibuat menghadap ke laut dan daratan, mengawasi lalu lintas kapal di Selat Buton. Fasilitas ini berfungsi sebagai titik pemantauan musuh dan pertahanan strategis, menegaskan peran benteng sebagai salah satu benteng militer terbesar di kawasan timur Nusantara.
Gerbang Lawa berfungsi sebagai sistem kontrol akses. Beberapa gerbang utama (Lawa) menjadi jalur keluar-masuk resmi ke dalam kawasan benteng. Gerbang ini berfungsi sebagai titik pemeriksaan keamanan sekaligus simbol batas wilayah kekuasaan Kesultanan.
Berbagai fasilitas yang ada di benteng ini menjadikannya ruang hidup bagi kesultanan pada masanya. Dengan sistem pemerintahan yang terorganisasi, kondisi tersebut mencerminkan tata kelola, sistem sosial, serta nilai budaya masyarakat Buton yang kuat.
Sebaiknya Anda baca juga:
Posisi Geografis yang Vital
Secara geografis, benteng terletak di ketinggian dengan pandangan langsung ke arah laut, berada pada elevasi sekitar 100–150 meter di atas permukaan laut (mdpl). Ketinggian ini menjadikannya titik strategis untuk memantau pergerakan kapal yang melintas di jalur perdagangan. Posisi tersebut memungkinkan Kesultanan Buton mengontrol akses maritim sekaligus melindungi wilayahnya dari ancaman eksternal.
Selain dinding yang kokoh, benteng dilengkapi dengan beberapa gerbang utama yang berfungsi sebagai jalur masuk resmi. Gerbang-gerbang tersebut dirancang dengan sistem keamanan berlapis, sehingga mempersulit akses bagi pihak yang tidak berkepentingan.
Identitas Lokal
Sebagai benteng pribumi, Benteng Keraton Buton merupakan warisan sejarah yang merepresentasikan identitas masyarakat Buton. Struktur ini menjadi saksi peran Kesultanan Buton dalam jaringan perdagangan regional, hubungan diplomatik dengan kerajaan lain, serta dinamika politik di kawasan timur Indonesia.
Hingga kini, benteng masih menjadi pusat kegiatan adat, budaya, dan pariwisata, serta objek penelitian bagi sejarawan, arkeolog, dan akademisi. Setiap sudut benteng menyimpan narasi tentang kepemimpinan, strategi pertahanan, hingga kehidupan sosial masyarakat masa lampau.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!