Benteng Keraton Buton, Warisan Maritim dan Pusat Peradaban Nusantara
📅 Jumat, 23 Jan 2026, 06:54 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: Kementerian Pariwisata RI
BAUBAU merupakan kota yang memiliki posisi strategis. Berada di Selat Buton yang memisahkan antara Pulau Buton dan Pulau Muna, kota ini dikenal sebagai pusat sejarah Kesultanan Buton, sekaligus gerbang ekonomi dan transportasi kawasan Buton dan sekitarnya.
Kota tersebut terletak di pesisir selatan Pulau Buton dan memiliki akses laut yang strategis ke wilayah Sulawesi, Maluku, dan Nusa Tenggara. Kota ini berfungsi sebagai hub pelabuhan dan perdagangan regional sejak masa lalu hingga kini, yang menjadikannya sangat penting.
Lantaran kota ini begitu vital dan kerap mendapat ancaman, pemerintah kerajaan membangun Benteng Keraton Buton. Pembangunan dimulai sekitar tahun 1542 pada masa pemerintahan Sultan Buton ke-3, yaitu Sultan Murhum.
Berlokasi di Kelurahan Melai, Kecamatan Murhum, Kota Baubau, Provinsi Sulawesi Tenggara, Indonesia, tujuan awal pembangunannya adalah untuk melindungi keraton dan pusat pemerintahan dari ancaman bajak laut serta musuh dari luar, sekaligus menjaga stabilitas politik Kesultanan Buton.
Pada awalnya, benteng terbuat dari tanah dan kayu, kemudian diperkuat dengan batu kapur yang tersedia melimpah di kawasan karst ini. Seiring waktu pula, bangunan ini diperkuat, diperlebar, dan diperpanjang.
Sebaiknya Anda baca juga:
Panjang dinding benteng hingga puncak pembangunan mencapai sekitar 2.740 meter, dilengkapi dengan puluhan bastion (pos meriam) untuk pertahanan, serta didukung oleh gerbang utama seperti Lawa (pintu masuk) yang dijaga dengan ketat.
Dikenal sebagai Benteng Wolio, struktur ini merupakan salah satu benteng terbesar dan terluas di dunia. Sistem pertahanan tersebut menjadi simbol kejayaan Kesultanan Buton, sekaligus bukti kuat peradaban maritim Nusantara yang telah berkembang sejak berabad-abad silam.
Dengan ukuran tersebut, benteng ini tercatat dalam Guinness World Records sebagai benteng terluas di dunia. Sementara itu, luas kawasan yang dikelilingi benteng diperkirakan mencapai lebih dari 23 hektare, mencakup area permukiman, istana, masjid, serta bangunan adat yang dahulu menjadi pusat pemerintahan Kesultanan Buton.
Sebaiknya Anda baca juga:
Untuk menghindari ancaman bajak laut dan kekuatan asing di kawasan timur Nusantara, pada tahap awal benteng dibuat dari susunan batu karang dan tanah, lalu diperkuat secara bertahap oleh para sultan berikutnya hingga menjadi sistem pertahanan yang kokoh.
Dinding benteng memiliki ketebalan antara 1 hingga 4 meter, dengan ketinggian mencapai sekitar 2 hingga 8 meter, tergantung pada kontur wilayah. Struktur pertahanan ini dilengkapi dengan puluhan bastion (baluwarti) atau pos pengintai yang memungkinkan penjagaan dari berbagai arah, sekaligus menjadi titik strategis bagi meriam dan pasukan.
Pusat Pemerintahan
Tidak seperti benteng peninggalan kolonial di Indonesia Timur, Benteng Keraton Buton tidak hanya berfungsi sebagai pertahanan militer, tetapi juga sebagai jantung pemerintahan Kesultanan Buton. Di dalam kawasan benteng terdapat sejumlah bangunan penting.
Beberapa bangunan yang masih berdiri antara lain Istana Sultan Buton (Malige), pusat kediaman dan aktivitas resmi sultan; Masjid Agung Keraton Buton yang menjadi pusat keagamaan dan dakwah; Baruga atau balai adat untuk musyawarah dan kegiatan sosial; serta permukiman bangsawan dan pejabat kesultanan.
Secara lebih mendalam, Istana Malige berfungsi sebagai pusat pemerintahan kesultanan. Bangunan ini menjadi kediaman resmi Sultan Buton sekaligus pusat administrasi kerajaan. Bangunan kayu bertingkat ini menjadi lokasi musyawarah negara, pertemuan elite adat, serta pelaksanaan upacara resmi.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!