Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Kanker Serviks Diam-Diam Membunuh 20 Ribu Perempuan Indonesia Tiap Tahun, Ini Gejala yang Sering Diabaikan

📅 Rabu, 07 Jan 2026, 17:34 WIB | Oleh:
Kanker Serviks Diam-Diam Membunuh 20 Ribu Perempuan Indonesia Tiap Tahun, Ini Gejala yang Sering Diabaikan Doc: ANTARA/ Subur Atmamihardja
Ket. Cuplikan Program Bincang Sehat saat membahas secara khusus tentang kanker serviks bersama dr Lisa Puspadewi Susanto, Spesialis kebidanan dan kandungan.

JAKARTA - Kanker serviks masih menjadi ancaman serius bagi perempuan Indonesia. Meski tergolong kanker yang bisa dicegah dan disembuhkan bila terdeteksi dini, ribuan kasus baru terus ditemukan setiap tahun, sebagian besar saat sudah memasuki stadium lanjut. Rendahnya kesadaran skrining, keterbatasan akses layanan, serta minimnya edukasi membuat penyakit ini diam-diam merenggut nyawa.

Berdasarkan data WHO, lebih dari 340.000 perempuan meninggal setiap tahun akibat kanker serviks, dengan sekitar 90% di antaranya terjadi di negara-negara berkembang.

Di Indonesia, laporan Globalcan 2022 menunjukkan terdapat 36.964 kasus baru dan lebih dari 20 ribu kematian per tahun akibat kanker serviks. Padahal, menurut Kementerian Kesehatan RI, kanker ini merupakan salah satu jenis kanker yang paling bisa dicegah dan disembuhkan apabila dideteksi dan ditangani secara dini.

Direktur Penyakit Tidak Menular (PTM) Kementerian Kesehatan dr Siti Nadia Tarmizi mengungkapkan penyakit kanker serviks bisa dieliminasi dengan tata laksana dini terutama pada perempuan usia produktif 30-59 tahun yang sudah melakukan aktifitas seksual.

“Skrining untuk menemukan kasus lebih dini menjadi bagian penting untuk mencegah kanker naik ke level selanjutnya. Jika kasus bisa ditemukan lebih dini dan segera diobati, maka kematian dapat dihindari,” kata Siti Nadia melalui pesan singkat kepada ANTARA.

Meski termasuk jenis kanker yang dapat dicegah, rendahnya kesadaran masyarakat terhadap deteksi dini membuat banyak pasien kanker serviks datang ke fasilitas kesehatan dalam kondisi stadium lanjut. Ini karena, menurut dr Lisa Puspadewi Susanto, Spesialis kebidanan dan kandungan, banyak perempuan masih enggan menjalani pemeriksaan IVA atau Pap smear karena minimnya informasi dan rasa takut.

“Trennya, kalau tidak sakit ya tidak ke rumah sakit. Banyak perempuan enggan melakukan screening kanker serviks. Padahal screening perlu dilakukan, tidak menunggu ada gejala,” ujarnya.

Lisa Puspadewi menjelaskan bahwa Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki tantangan besar dalam pemerataan layanan kesehatan. Ketimpangan tersebut membuat deteksi dini kerap terlambat, terutama di wilayah luar Jawa atau daerah dengan fasilitas kesehatan terbatas.

Sebaiknya Anda baca juga:

“Jadi memang di Indonesia ini sendiri permasalahan utamanya adalah SDM dan geografis. Sebagai negara kepulauan, persebaran dokter spesialis, alat-alat diagnostik, dan terapetiknya kurang merata,” kata dr Lisa

Selain faktor akses dan kesadaran, Lisa menyebut keterlibatan virus Human Papillomavirus (HPV) menjadi penyebab utama. Ia menjelaskan, perubahan perilaku seksual generasi muda juga turut mempengaruhi peningkatan risiko. Tingginya penyebaran HPV, membuat upaya pencegahan pun harus lebih agresif melalui vaksinasi dan edukasi terutama kepada kelompok usia produktif.

“Remaja sekarang banyak yang memulai aktivitas seksual di usia dini dan gonta-ganti pasangan. Ini sangat berpengaruh terhadap risiko kanker serviks,” ungkapnya. 

Sebenarnya, perjalanan dari infeksi HPV hingga menjadi kanker serviks membutuhkan waktu yang panjang. Menurut penuturan dr Lisa, perjalanan itu membutuhkan 15-20 tahun, sehingga deteksi dini sangat mungkin dilakukan sebelum selnya berubah menjadi ganas.

“Karena prosesnya bertahap, skrining rutin seharusnya bisa mencegah sebagian besar kasus kanker serviks sebelum berkembang menjadi stadium berat,” kata Lisa.

Gejala awal yang sering diabaikan

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Luar Negeri
AS Dukung Dialog Langsung a...
Ekonomi
Pakar: Pangan dan Rupiah Ja...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Daftar Event Akhir Pekan di Jakarta 6–7 Juni 2026: Ada Konser EXO dan Reality Club

Daftar Event Akhir Pekan di Jakarta 6–7 Juni 2026: Ada Konser EXO dan Reality Club

05 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.