Jejak Kerbau, Jejak Peradaban: Upaya Pertahankan Kebudayaan Lokal Dongkrak Ekonomi Berbasis Pariwisata dan Ekraf
📅 Selasa, 06 Jan 2026, 17:33 WIB | Oleh: Opik
Doc: ANTARA/HO-Humas Pemkab Sumbawa Barat
MATARAM. NUSA TENGGARA BARAT - Karapan kerbau kembali menandai awal tahun 2026 di Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat (NTB).
Arena berlumpur di Bentiu tidak sekadar menjadi tempat adu kecepatan sepasang kerbau, tetapi juga ruang pertemuan antara masa lalu dan masa depan.
Tradisi agraris yang lahir dari kebutuhan membajak sawah itu, kini tampil sebagai wajah kebudayaan yang hidup, sekaligus penopang ekonomi rakyat.
Di tengah perubahan sosial, tekanan ekonomi, dan arus modernisasi, karapan kerbau menjadi wacana penting tentang bagaimana kebudayaan lokal dipertahankan, tanpa kehilangan relevansinya.
Sepanjang beberapa tahun terakhir, Pemerintah Kabupaten Sumbawa Barat menempatkan karapan kerbau sebagai bagian dari kalender kegiatan daerah. Pada awal 2026, ajang ini kembali digelar secara berkelanjutan di berbagai lokasi.
Sebaiknya Anda baca juga:
Kehadirannya bukan hanya hiburan rakyat, tetapi juga penegasan bahwa tradisi lokal masih memiliki daya hidup. Ribuan warga datang, pedagang kecil membuka lapak, jasa transportasi lokal bergerak, dan sirkulasi ekonomi terbentuk di sekitar arena.
Karapan kerbau menjadi bukti bahwa kebudayaan bukan beban masa lalu, melainkan modal sosial dan ekonomi yang nyata.
Di balik kemeriahan itu, terdapat pertanyaan mendasar. Sejauh mana karapan kerbau dilihat sebagai agenda strategis, bukan sekadar peristiwa seremonial.
Tahun 2026 menghadirkan tantangan baru. Ketika daerah berlomba memperkuat ekonomi berbasis pariwisata dan ekonomi kreatif, tradisi, seperti karapan kerbau, membutuhkan pendekatan yang lebih terencana agar tidak berhenti sebagai tontonan musiman.
Warisan agraris
Karapan kerbau atau barapan kebo lahir dari kehidupan agraris masyarakat Sumbawa. Tradisi ini berakar pada proses membajak sawah di tanah liat yang berat, ketika kerbau dipacu untuk menggemburkan lahan sebelum musim tanam.
Dari kebutuhan praktis itu tumbuh ritual, aturan, dan nilai kebersamaan. Karapan kerbau mengajarkan kerja sama, sportivitas, dan penghormatan pada alam.
Di Sumbawa Barat, tradisi ini tetap hidup karena masih terhubung dengan identitas masyarakat. Kerbau tidak dipandang semata sebagai hewan ternak, tetapi sebagai bagian dari siklus hidup pertanian.
Ketika karapan digelar, masyarakat lintas desa dan kecamatan berkumpul. Arena menjadi ruang silaturahim, tempat cerita lama dan baru bertemu. Modal sosial inilah yang menjadikan karapan kerbau lebih dari sekadar lomba.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!