Wisata Tetap Jalan, Kesiapsiagaan Bencana Tak Ditinggalkan
📅 Minggu, 28 Des 2025, 20:45 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA FOTO/ Angga Budhiyanto
JAKARTA – Kementerian Pariwisata tak ingin destinasi wisata alam hanya indah dipandang, tapi juga aman dikunjungi. Karena itu, sejumlah langkah mitigasi terus diperkuat untuk meminimalisasi dampak bencana, terutama di wilayah rawan seperti kawasan pantai, pegunungan, dan daerah aliran sungai.
Mulai dari penyiapan jalur evakuasi, papan informasi kebencanaan, hingga peningkatan kapasitas pelaku wisata dan pengelola destinasi, semua dirancang agar wisata tetap berjalan tanpa mengabaikan keselamatan.
Dengan pendekatan ini, Kemenpar berharap pengalaman berwisata tak hanya meninggalkan kenangan indah, tetapi juga rasa aman bagi wisatawan dan masyarakat setempat.
Kemenpar telah mengeluarkan pedoman atau modul yang berisi sejumlah topik terkait keselamatan, penanggulangan kebencanaan, serta pengelolaan pengunjung sebagai acuan dalam menjaga keamanan, kenyamanan, dan keberlanjutan destinasi.
"Pedoman/ modul tersebut dapat dijadikan sebagai acuan bagi Pemerintah Daerah (Pemda), pengelola destinasi wisata dan desa wisata, serta pelaku usaha industri pariwisata," kata Kemenpar kepada ANTARA di Jakarta, Minggu (28/12).
Sebaiknya Anda baca juga:
Kemenpar juga mendorong pemerintah daerah dan pengelola destinasi wisata agar menerapkan manajemen risiko destinasi pariwisata, khususnya pada destinasi yang memiliki tingkat risiko tinggi dengan mengacu pada Petunjuk Teknis Implementasi Manajemen Risiko di destinasi pariwisata.
Selain itu, Kemenpar juga menyiapkan pedoman terkait Cleanliness, Health, Safety, and Environment Sustainability (CHSE), penanggulangan kebencanaan, serta pengelolaan pengunjung sebagai acuan dalam menjaga keamanan, kenyamanan, dan keberlanjutan destinasi.
Terkait penanganan bencana di Sumatera, Kemenpar berkoordinasi dan berkolaborasi dengan instansi terkait seperti Badan Nasional Penanggulangan Bencana/Badan Nasional Penanggulangan Bencana Daerah (BNPB/BPBD) dan Dinas Pariwisata Daerah (Dispar) di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Sebaiknya Anda baca juga:
Hingga 25 Desember 2025, tercatat jumlah daya tarik wisata (DTW) dan desa wisata di Sumatera Utara (Sumut) yang terdampak banjir sebanyak 53 desa wisata dan 29 DTW; serta Sumatera Barat sebanyak 28 desa wisata dan 74 DTW.
Sedangkan jumlah DTW dan desa wisata di Aceh yang terdampak banjir hingga saat ini belum dapat dikonfirmasi ulang akibat kondisi yang belum kondusif serta bantuan masih difokuskan pada upaya pemulihan.
Saat ini pemerintah tengah fokus pada respon cepat evakuasi, penyelamatan, maupun upaya pemenuhan kebutuhan dasar bagi para korban banjir wilayah terdampak bencana.
Kemenpar berkolaborasi dengan pengusaha pariwisata dan mitra strategis untuk memberikan bantuan kemanusiaan ke Sumatera. Bantuan yang dihimpun terdiri atas makanan, alat sanitasi, perlengkapan dan makanan bayi, perlengkapan umum, pakaian, serta perlengkapan sekolah.
Civitas akademika Poltekpar Medan juga memberikan dukungan dan bantuan untuk masyarakat yang terdampak di Besilam, Sumatera Utara.
Selain itu, Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT) pada 28 November 2025 turut menyalurkan bantuan makanan seperti beras, gula, telur, dan mie instan kepada masyarakat yang terdampak bencana longsor di Desa Lobu Pining, Kabupaten Tapanuli Utara dan masyarakat yang terdampak bencana banjir di Desa Sihombu, Kabupaten Humbang Hasundutan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!