Banjir Jadi Ujian bagi PM Anutin Jelang Pemilu
📅 Selasa, 02 Des 2025, 02:45 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: AFP/Arnun Chonmahatrakool/THAI NEWS PIX
BANGKOK – Pemerintah Thailand pada Senin (1/12) mengumumkan langkah-langkah bantuan baru bagi para korban banjir terburuk di negara ini dalam beberapa dekade, beberapa pekan sebelum digelarnya pengumuman pemilu sela.
Hingga saat ini banjir telah menewaskan 176 orang, menggenangi kota-kota dan mengganggu kehidupan lebih dari 2 juta rumah tangga di Thailand selatan, dengan Provinsi Songkhla yang terkena dampak paling parah dan dengan sebagian besar korban jiwa berada di dan sekitar pusat komersial regional Hat Yai.
Warga Thailand mengkritik pihak berwenang karena tanggapan mereka yang lambat dan tidak merata dan pejabat pemerintah telah mengakui kesalahan dalam menangani krisis bencana.
Dampak ekonomi akibat banjir pun semakin parah. Menurut Krungsri Research diperkirakan total kerugian ekonomi mencapai 23,6 miliar baht, dengan hotel dan restoran termasuk yang paling terdampak karena banjir terjadi pada awal musim puncak pariwisata, dengan wilayah selatan khususnya yang amat populer di kalangan pengunjung dari Malaysia.
Krisis ini terjadi ketika Perdana Menteri Anutin Charnvirakul bersiap untuk membubarkan parlemen pada akhir Januari dan memicu pemilihan umum sebagai bagian dari kesepakatan yang disetujui dengan partai-partai oposisi yang memungkinkannya membentuk pemerintahan pada September lalu.
Sebaiknya Anda baca juga:
Respons pemerintahnya terhadap banjir, serta seberapa cepat bantuan mencapai masyarakat terdampak, dapat membentuk sentimen publik menjelang pemungutan suara yang diperkirakan akan berlangsung pada Maret atau April.
Popularitas Turun
Saat ini PM Anutin menghadapi kritik yang semakin meningkat atas lambatnya respons pemerintahnya terhadap banjir mematikan di selatan, yang mengancam akan menggagalkan ambisi partainya menjelang pemilihan umum sela.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Banjir ini sangat mempengaruhi popularitas Anutin dan pemerintah karena tampaknya, dalam keadaan darurat, Anutin relatif tidak sistematis dalam manajemennya," ujar Sukhum Nuansakul, seorang analis politik. "Semua itu menyebabkan popularitasnya menurun," imbuh dia.
Berbicara kepada wartawan pada Senin, PM Anutin mengatakan dirinya tidak memikirkan kehilangan dukungan di selatan, dan menambahkan: "Saya hanya memikirkan bagaimana membantu rakyat."
Sebuah jajak pendapat oleh Universitas Suan Dusit yang dilakukan pekan lalu selama puncak banjir menemukan bahwa dukungan Anutin telah merosot dari 48% responden yang mendukungnya menjadi 23%.
"Banjir tidak hanya merugikan masyarakat, tetapi juga berdampak signifikan terhadap popularitas pemerintah," demikian hasil survei yang melibatkan 2.208 responden dan dirilis pada Minggu (30/11).
Jajak pendapat lain oleh Institut Administrasi Pembangunan Nasional yang dirilis pada Minggu, yang mensurvei 2.000 orang di 14 provinsi selatan sebelum banjir, menunjukkan Anutin hanya berada di posisi ketiga dalam daftar pilihan perdana menteri terkemuka, dengan 15,4% dukungan.
Partai Bhumjaithai pimpinan Anutin, yang saat ini hanya memiliki 70 kursi di majelis rendah parlemen yang beranggotakan 493 orang, memiliki basis kuat di wilayah timur laut bagian bawah negara tersebut, tetapi telah mengincar sedikitnya 30 kursi di provinsi selatan. ST/Bloomberg/I-1
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!