Prospek Ekonomi Dunia Diperkirakan Masih Suram Hingga 2027
📅 Senin, 01 Des 2025, 01:15 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: BAY ISMOYO/AFP
JAKARTA - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menegaskan bahwa gelombang kebijakan proteksionis Amerika Serikat (AS) terus mengguncang dinamika ekonomi global. Selain itu, ketegangan geopolitik yang belum menunjukkan tanda mereda akan membuat prospek ekonomi dunia tetap suram hingga 2026-2027.
Dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia di Jakarta, Jumat (28/11), Perry mengatakan penting untuk waspada, seperti nasihat Ronggowarsito.
Menurut Perry ada lima karakter utama yang membentuk lanskap ekonomi global ke depan. Pertama, kebijakan tarif AS yang tidak kunjung reda dinilai akan menekan perdagangan internasional, memperlemah multilateralisme, dan mendorong lahirnya blok-blok kerja sama baru.
Kedua, pertumbuhan ekonomi dunia melambat, terutama Amerika Serikat dan Tiongkok. Sementara Uni Eropa, India, Indonesia cukup baik. Penurunan inflasi lebih lambat mempersulit kebijakan moneter Bank Sentral.
Karakteristik ketiga adalah meningkatnya tekanan fiskal akibat tingginya utang pemerintah dan suku bunga di negara maju, yang pada akhirnya menciptakan beban tambahan bagi negara-negara berkembang.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dia juga menyoroti risiko baru dalam sistem keuangan global, yaitu lonjakan transaksi produk derivatif berisiko tinggi yang melibatkan hedge fund berpotensi memicu arus keluar modal dan menekan pasar negara berkembang.
Sementara itu, maraknya penggunaan uang kripto dan stablecoin menjadi karakteristik kelima. “Kelima, maraknya uang kripto dan stable coin tidak selesai. Belum ada pengaturan dan pengawasan yang jelas. “Disini lah perlunya Central Bank Digital Currency,” kata Perry.
Indonesia tegasnya perlu merespons seluruh dinamika tersebut dengan kebijakan yang konsisten menjaga stabilitas, memperkuat pertumbuhan, dan membangun ketahanan ekonomi yang semakin mandiri.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Indonesia perlu respons kebijakan yang tepat, menjaga stabilitas, mendorong pertumbuhan lebih tinggi dan berdaya tahan tangguh dan mandiri,”pungkas Perry.
Ketahanan Ekonomi Nasional
Dosen Magister Ekonomi Terapan Unika Atma Jaya, YB. Suhartoko mengatakan ekonomi domestik bakal sangat rentan jika negara negara kuat melakukan proteksionisme atau pengetatan pasar seperti yang dilakukan Amerika Serikat (AS).
“Suku bunga, nilai tukar akan sangat dipengaruhi kondisi dunia karena ketergantungan ini. “Oleh karena itu, ketahanan ekonomi nasional perlu diupayakan agar tidak terus bergantung pada pihak luar,”tegasnya.
Negara ujar Suhartoko perlu membangun kemandirian dalam berbagai bidang ekonomi seperti pangan, modal dan peralatan industri manufaktur.
“Dengan demikian ketika terjadi gejolak yang melanda perekonomian dunia dampaknya bisa diminimalisir,” tutup Suhartoko.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!