Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Australia Nekat Larang Anak Main Medsos Sampai Umur 16, Meski Banyak yang Protes

📅 Rabu, 26 Nov 2025, 20:30 WIB | Oleh:
Australia Nekat Larang Anak Main Medsos Sampai Umur 16, Meski Banyak yang Protes Doc: Reuters

JAKARTA - Pemerintah Australia tetap maju dengan rencana larangan akses media sosial bagi anak di bawah 16 tahun meski berbagai kritik dan kekhawatiran terus bermunculan dari publik. Kebijakan ini dipromosikan sebagai langkah protektif untuk membentengi generasi muda dari risiko konten berbahaya dan efek psikologis negatif di dunia digital.

Aturan tersebut mendorong platform seperti Facebook, Instagram, dan TikTok untuk menerapkan sistem verifikasi usia yang jauh lebih ketat dan andal dari sebelumnya. Pemerintah bahkan menyiapkan aturan khusus yang mengharuskan perusahaan teknologi memprioritaskan keamanan anak sebagai standar utama operasional.

Gagasan ini muncul setelah berbagai penelitian di Australia menunjukkan lonjakan kasus kecemasan, depresi, dan cyberbullying pada remaja pengguna media sosial. Pemerintah menilai pembatasan akses dapat memberi ruang bagi anak untuk tumbuh tanpa tekanan algoritma dan paparan konten ekstrem.

"Ini waktunya kita menempatkan keselamatan anak di atas kepentingan bisnis perusahaan teknologi," kata Perdana Menteri Anthony Albanese dalam pernyataannya kepada media.

Pemerintah menegaskan aturan ini bukan upaya membatasi kebebasan anak, melainkan penyesuaian terhadap situasi digital yang makin rumit dan tidak ramah bagi kelompok usia muda. Upaya ini juga disebut sebagai bentuk adaptasi negara dalam menghadapi generasi yang semakin terkoneksi dan rentan.

Meski begitu, sejumlah pakar teknologi dan aktivis privasi menilai kebijakan tersebut berpotensi menimbulkan masalah baru terkait perlindungan data pribadi. Mereka mengkritik implementasi verifikasi usia yang dianggap rawan disalahgunakan atau membuka akses pihak ketiga terhadap data sensitif anak.

"Jika pemerintah ingin memverifikasi usia secara ketat, maka mereka harus memastikan tidak ada data anak yang disimpan atau dipantau secara agresif," ujar Pengamat Keamanan Siber Adam Molnar.

Sejumlah orang tua mendukung langkah ini karena merasa anak mereka semakin sulit mengendalikan waktu yang dihabiskan di media sosial. Para pendukung kebijakan juga percaya pembatasan dapat membantu memperkuat interaksi sosial di dunia nyata dan menurunkan tekanan sosial yang muncul dari aktivitas daring.

Namun sebagian lainnya justru menyebut aturan itu tidak realistis dan mudah dilewati oleh anak-anak yang sudah terbiasa dengan teknologi. Mereka menilai pembatasan justru akan mendorong anak membuat akun palsu atau mengakses platform melalui cara-cara yang tidak bisa dipantau orang tua.

"Anak-anak selalu satu langkah lebih maju soal teknologi, dan larangan ini tidak menjamin mereka benar-benar berhenti bermain media sosial," kata seorang peneliti teknologi pendidikan di Melbourne.

Perdebatan ini semakin ramai setelah pemerintah mewacanakan anggaran riset senilai jutaan dolar untuk mengembangkan teknologi verifikasi usia yang aman dan tidak invasif. Pemerintah berharap inovasi ini dapat menjadi standar baru bagi perusahaan global jika terbukti efektif di Australia.

Sementara itu, perusahaan media sosial menyatakan mereka terbuka membahas regulasi baru namun menekankan perlunya pendekatan yang seimbang. Mereka mengingatkan bahwa pembatasan berlebihan dapat berdampak buruk pada pengalaman pengguna dan menimbulkan hambatan bagi komunitas digital.

"Kami ingin melindungi remaja, tetapi kebijakan harus realistis dan mempertimbangkan konsekuensi sosial serta teknis yang ada," tulis Meta dalam pernyataan resminya.

Dalam beberapa bulan ke depan, parlemen Australia akan membahas draf final aturan tersebut sebelum disahkan sebagai undang-undang resmi. Pemerintah memastikan konsultasi publik akan dilakukan secara luas agar kebijakan ini dapat diterapkan tanpa mengganggu ekosistem digital secara berlebihan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
Advertisement
Citilink Flight Sale 231026 Halaman Rubrik
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Nusron Wahid Dua Kali Mangkir, KPK Siapkan Panggilan Ketiga

Nusron Wahid Dua Kali Mangkir, KPK Siapkan Panggilan Ketiga

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.