Virus Shamonda Ditemukan pada Manusia untuk Pertama Kali di Prancis, Pria itu Meninggal
📅 Kamis, 22 Okt 2026, 22:28 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo SPARIS – Virus Shamonda yang selama ini dikenal menginfeksi hewan ternak untuk pertama kalinya terdeteksi pada manusia di Prancis. Otoritas kesehatan kini menyelidiki kemungkinan virus tersebut berkontribusi terhadap kematian seorang pria pada Oktober 2026.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Eropa (ECDC) menyatakan, kasus tersebut merupakan infeksi virus Shamonda pertama pada manusia yang berhasil diidentifikasi. Namun, hubungan langsung antara infeksi dan kematian pasien masih belum dapat dipastikan.
Menurut laporan The Guardian, Kamis (22/10), pasien tersebut sebelumnya sudah mengalami sakit parah dan memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah. Ia juga dilaporkan mengalami komplikasi neurologis sebelum meninggal dunia.
“Investigasi mengenai apakah virus tersebut menyebabkan atau berkontribusi terhadap kematian pasien dan bagaimana infeksi tersebut didapatkan masih berlangsung,” kata ECDC.
Virus Shamonda termasuk kelompok bunyavirus yang dapat ditularkan melalui gigitan nyamuk terinfeksi. Virus ini sebelumnya ditemukan pada hewan ternak, termasuk sapi, domba, dan kambing. Infeksi pada hewan dapat memicu diare, kehilangan nafsu makan, penurunan produksi susu, hingga keguguran dan kelainan bawaan pada anak hewan.
Badan Kesehatan dan Keamanan Pangan Austria juga melaporkan temuan materi genetik virus Shamonda di otak kuda yang mati akibat gejala neurologis di Swiss dan Jerman.
Sebelum ditemukan di Eropa, virus tersebut telah teridentifikasi pada hewan di sejumlah wilayah di luar benua itu. Virus Shamonda baru terdeteksi pada hewan ternak di Eropa pada musim panas tahun ini.
Meski kasus pada manusia menimbulkan perhatian, para ahli menilai risiko terhadap masyarakat umum saat ini masih rendah.
Profesor Tom Solomon, Direktur Institut Pandemi Universitas Liverpool, mengatakan virus Shamonda telah beredar pada sejumlah spesies hewan selama bertahun-tahun. Selain sapi, virus tersebut juga ditemukan pada domba, kambing, kuda, dan alpaka.
“Ini menunjukkan bahwa penularan ke manusia sangat jarang terjadi,” kata Solomon.
Meski demikian, ia menilai masih banyak hal yang belum diketahui mengenai virus tersebut, termasuk kemungkinan infeksi tanpa gejala pada orang sehat, gejala yang biasanya muncul, serta seberapa sering infeksi dapat berkembang menjadi penyakit serius.
Solomon menambahkan, otoritas Prancis meyakini komplikasi neurologis yang dialami pasien kemungkinan berkaitan dengan infeksi virus tersebut. Namun, penyelidikan masih berlangsung untuk memastikan hubungan keduanya.
Ia mengingatkan, satu kasus yang tidak biasa belum cukup untuk menyimpulkan bahwa virus Shamonda menjadi ancaman besar bagi populasi secara luas.
Senada, Dr. Ben Brennan dari Pusat Penelitian Virus MRC-Universitas Glasgow mengatakan, hingga kini belum ada bukti yang menunjukkan terjadinya penularan virus Shamonda secara berkelanjutan antarmanusia.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!