Intervensi Nutrisi PKMK Terbukti Pangkas Hampir Setengah Biaya Pengobatan Infeksi pada Anak
📅 Senin, 24 Nov 2025, 18:25 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: Muh. Akbar Bahar
JAKARTA – Masalah gizi dan penyakit infeksi masih menjadi beban ganda di Indonesia, sebab hal ini saling memperburuk satu sama lain. Data UNICEF dan Kementerian Kesehatan (2024) menunjukkan satu dari lima anak Indonesia mengalami stunting, sementara lebih dari 30% anak usia di bawah lima tahun pernah mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) atau diare dalam satu tahun terakhir.
Selain itu, laporan Global Nutrition Report 2024 memperkirakan Indonesia kehilangan hingga 2–3% Produk Domestik Bruto (PDB) per tahun akibat rendahnya produktivitas dan tingginya biaya medis yang disebabkan oleh malnutrisi. Kombinasi kekurangan gizi dan infeksi berulang menciptakan lingkaran masalah yang menekan tumbuh kembang anak serta meningkatkan biaya pengobatan keluarga dan negara.
Namun, studi terbaru dari Indonesia yang dipresentasikan di International Society for Pharmacoeconomics and Outcomes Research (ISPOR) 2025 di Glasgow, Skotlandia, membawa solusi untuk menjawab isu tersebut. Penelitian yang dipimpin oleh Associate Professor dari Fakultas Farmasi Universitas Hasanuddin, Muh. Akbar Bahar, Ph.D, menunjukkan bahwa pemberian intervensi nutrisi medis berupa Pangan Olahan untuk Keperluan Medis Khusus (PKMK).
Pemberian PKMK selama tiga bulan terhadap anak- anak undernutrisi seperti stunting, underweight dan wasting yang secara produk di Indonesia terbukti klinis dan terpublikasi di Jurnal Internasional, setelah dilakukan analisis ekonomi dapat secara signifikan berpotensi menurunkan hingga hampir setengah beban biaya pengobatan penyakit infeksi seperti pneumonia, tuberkulosis (TB), dan diare pada anak-anak dengan gizi kurang.
Ia mengatakan, masalah gizi seharusnya tidak lagi dipandang sebagai isu kesehatan semata, melainkan sebagai persoalan ekonomi nasional yang memengaruhi produktivitas dan kualitas sumber daya manusia kita. Anak-anak yang kekurangan gizi cenderung lebih sering sakit, membutuhkan waktu pemulihan lebih lama, dan membebani biaya pengobatan yang tidak kecil bagi keluarga maupun negara.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Dengan intervensi nutrisi PKMK yang tepat, kita tidak hanya memperbaiki status gizi anak, tetapi juga memutus siklus penyakit infeksi berulang yang selama ini menjadi akar dari rendahnya kualitas hidup generasi muda Indonesia,” jelasnya Akbar melalui siaran pers pada hari Senins (24/11).
Analisis tersebut didukung oleh penelitian klinis yang dilakukan oleh salah satu Dokter Anak Konsulen Nutrisi dan Penyakit Metabolik pada 80 anak berusia 12–60 bulan dengan kondisi undernutrisi di RS Husada Utama, Surabaya selama Oktober 2021–Juli 2022 dengan produk PKMK mampu mendorong pertumbuhan pemulihan yang signifikan.
Anak-anak yang menerima intervensi nutrisi medis ini mengalami peningkatan berat badan hingga 1,5 kg, tinggi badan 4,35 cm. selain itu terjadi penurunan kadar TLC (Total Lymphocyte Count) yang menandakan terjadinya perbaikan sistem imun.
Sebaiknya Anda baca juga:
Selain itu, terjadi penurunan prevalensi stunting sebesar 34,5%, wasting 72,7%, dan underweight 51,7%, yang seluruhnya berkontribusi pada penurunan risiko infeksi. Hasil ini menegaskan bahwa pendekatan berbasis nutrisi dapat menjadi langkah preventif yang efektif untuk memutus rantai masalah gizi dan infeksi yang selama ini membebani sistem kesehatan Indonesia.
Di samping manfaat klinis, analisis ekonomi menunjukkan bahwa pemberian produk PKMK selama tiga bulan tidak hanya memberikan dampak kesehatan yang nyata, tetapi juga menghasilkan efisiensi biaya yang signifikan.
Dengan investasi sebesar 1.863.720 rupiah (116,79 dollarAS) per anak, intervensi ini terbukti mampu menurunkan risiko dan biaya pengobatan berbagai penyakit infeksi termasuk tuberkulosis (47,2%), pneumonia (44,7%), ISPA (47,2%), dan diare (48,9%).
Dari sisi ekonomi kesehatan, hasil analisis menggunakan QALY (Quality Adjusted Life Year) dan ICER (Incremental Cost-Effectiveness Ratio) memperlihatkan bahwa intervensi senilai Rp1,86 juta (US$116,79) per anak memberikan manfaat ganda.
Tidak hanya meningkatkan kualitas hidup anak, tetapi juga secara substansial menghemat biaya rumah sakit akibat penyakit infeksi terkait gizi buruk. Dengan demikian, setiap rupiah yang diinvestasikan untuk nutrisi anak menghasilkan nilai ekonomi dan sosial yang jauh lebih besar, menjadikan produk PKMK sebagai bentuk investasi kesehatan yang efektif, berkelanjutan, dan berdampak luas bagi masa depan anak-anak Indonesia.
Temuan analisis ekonomi ini juga membuka peluang kebijakan baru, khususnya terkait potensi penanggungan PKMK oleh BPJS Kesehatan untuk penanganan anak stunting. Hasil studi memberikan dasar kuat bahwa integrasi PKMK dalam paket manfaat BPJS Kesehatan dapat meningkatkan efisiensi anggaran nasional.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!