Berkenalan dengan 'Haenyeo', Tradisi Jeju yang Kini di Ujung Tanduk
📅 Senin, 24 Nov 2025, 16:55 WIB | Oleh: Opik
Doc: ANTARA/HO ASEAN-Korea Centre
JAKARTA - Jika pernah menonton serial drama Korea Selatan berjudul "When Life Gives You Tangerine", tentu tidak asing dengan Pulau Jeju dan aktivitas para haenyeo.
Drama tersebut menceritakan tentang Oh Ae-sun, yang merupakan putri seorang haenyeo di Pulau Jeju, pontang panting mengejar mimpinya menjadi seorang penyair di tengah kerasnya kondisi ekonomi dan warisan tradisi.
Haenyeo, atau penyelam bebas wanita asal Jeju, merupakan tradisi yang telah hidup sejak sekitar seribu tahun lalu. Mereka mengumpulkan teripang, abalon, kerang, serta rumput laut, tanpa alat apapun sebagai mata pencaharian utama.
Sejatinya, mayoritas haenyeo berasal dari Pulau Jeju. Di masa lalu, haenyeo asal Jeju bermigrasi ke berbagai pesisir, bahkan hingga ke Jepang dan Qingdao (Tiongkok).
Dulunya, penyelam bebas ini bukan hanya diperankan oleh wanita, tetapi juga para pria. Seiring waktu, populasi haenyeo laki-laki semakin menipis karena meningkatnya kematian pelaut, saat menangkap ikan, sehingga para perempuan mengambil alih pekerjaan ini.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menjadi haenyeo tidak mudah, butuh kekuatan dan keteguhan hati. Pasalnya, wanita yang hidup sebagai haenyeo berarti harus siap menyelam, hingga puluhan tahun, bertaruh nyawa, mencari nafkah, sambil tetap mengasuh putra dan putri mereka.
Hal itu pula yang dirasakan Lee Bok-soo (71) dari Desa Sagye-ri, Seogwipo, Jeju, Korea Selatan. Lee telah menjadi haenyeo selama lebih dari 50 tahun dan masih melakukan pekerjaan tersebut, hingga saat ini.
Di tengah udara pagi Pulau Jeju yang sejuk pada minggu kedua November 2025, Ketua Asosiasi Haenyeo Segye-ri itu menceritakan pengalamannya kepada para wartawan ASEAN dalam ASEAN Journalists Invitation Program yang digelar oleh ASEAN-Korea Centre.
Sebaiknya Anda baca juga:
Lee telah belajar menyelam sejak usia muda. Ibunya yang juga seorang haenyeo, mengajarkannya menyelam sejak kecil. Lee juga menyebut, saat ia masih kecil, hampir semua ibu di desanya berprofesi sebagai penyelam.
"Kami belajar menyelam secara alami. Saat kami masih kecil, tidak banyak yang bisa dilakukan sepulang sekolah. Jadi kami hanya berenang dan bermain di laut," katanya.
Lee bercerita, telah mahir menyelam sejak usia muda. Sekitar usia 18 atau 19 tahun, ia telah memulai debutnya sebagai seorang haenyeo. Sambil terus tersenyum, wanita yang sudah punya dua cucu ini mengaku sangat bekerja keras untuk menjadi seorang haenyeo.
"Menjadi haenyeo adalah sesuatu yang sangat saya tekuni. Sepertinya kerja keras ini yang membuat saya tampak awet muda," ujarnya, sambil tertawa.
Wajah Lee semringah, kulit pucatnya tampak masih kencang dan mulus di usianya yang senja.
Postur tubuhnya juga masih cukup tegap, dan ia masih sangat lincah di dalam air. Layaknya seorang ibu, ia sempat berkali-kali mengingatkan kami, para wartawan, untuk menjauh dari tangga batu di dermaga tempat mereka mulai melakukan penyelaman.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!