Lestari Moerdijat Harap Pengembangan Situs Patiayam Segera Dirumuskan untuk Lestarikan Kawasan Situs Purbakala dari Kudus hingga Pati
📅 Minggu, 23 Nov 2025, 20:10 WIB | Oleh: SriyonoMenurut Francois, temuan dalam proses ekskavasi 3 tahun terakhir di Patiayam, memiliki prospek yang sangat memuaskan untuk menghadirkan prospek yang baik di masa depan.
Dia menyarankan, pada tahap selanjutnya upaya ekskavasi bisa diarahkan menjauh dari lapisan-lapisan yang dipengaruhi gunung api ke lokasi-lokasi mendekat ke muara sungai yang merupakan lokasi kondusif untuk hidup di masa lalu. “Kalau kita ketemu sungai di masa lalu, ada kemungkinan kita akan ketemu artefak batu, fosil, bahkan mungkin fosil manusia,” ujarnya.
Francois berpendapat, dalam penelitian di Patiayam ini untuk dapat konteks arkeologis yang benar kita harus cari lokasi-lokasi di pinggir sungai yang terfosilkan. “Mudah-mudahan kita bisa mendapatkan penemuan yang lebih banyak agar dapat menceritakan kehidupan manusia di masa lalu,” ujar Francois.
Pakar geologi dari Universitas AKPRIND, Sri Mulyaningsih berpendapat, aktivitas gunung berapi di sekitar Gunung Muria di masa lalu menghasilkan cekungan batuan yang disebut maar.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurut Sri di sekitar Gunung Muria ada sekitar 14 maar, dua di antaranya ada Rawa Gembong dan Waduk Logung.
Cekungan batuan tersebut, ungkap Sri, membentuk danau-danau yang di sekitarnya biasanya menjadi tempat tinggal makhluk hidup, termasuk hewan dan manusia purba. Sehingga, Sri mengusulkan, agar penelitian lanjutan bisa diarahkan ke sekitar lokasi yang di masa lalu diduga merupakan maar tersebut.
Pakar geologi dari Universitas AKPRIND, Sutikno Bronto berpendapat, tantangan penelitian ke depan adalah mengubah paradigma penelitian arkeologi dari pengaruh geologi sedimenter ke pengaruh geologi gunung api.
Sebaiknya Anda baca juga:
Karena, menurut Sutikno, tantangan ke depan adalah peneliti arkeologi belum cukup familiar dengan istilah-istilah dan proses vulkanisme dalam konteks geologi gunung berapi.
Dalam konteks geologi gunung api, Sutikno memperkirakan, pada masa lalu di situs Patiayam dan Semenanjung Muria, air sumber kehidupan bagi fauna dan manusia purba berasal dari danau-danau yang terbentuk dari aktivitas vulkanik Gunung Muria yang dinamakan maar.
“Jadi ke depan tantangan penelitian di Patiayam dan Semananjung Muria adalah bagaimana para peneliti bisa mendalami penelitian juga dari kaca mata geologi gunung api,” ujar Sutikno.
Dengan perkiraan adanya potensi ditemukannya fosil-fosil fauna dan manusia purba di sekitar maar, menurut Sutikno, tantangan lainnya adalah lokasi penelitian akan meluas. “Sehingga wilayah kerja arkeologinya tidak hanya di Patiayam, tetapi juga kawasan-kawasan lainnya di Semenanjung Muria,” pungkasnya.
Sementara itu, Dekan FIK Universitas Kristen Satya Wacana Ferry Fredy Karwur berpendapat, saat ini masih terjadi gap yang cukup lebar antara pemahaman para ilmuwan dan masyarakat umum terkait pentingnya situs Patiayam.
Sebagai seorang ilmuwan di bidang biologi molekuler, ujar Ferry, kegiatan para arkeolog di situs Patiayam dapat memperkaya cabang ilmu yang lain.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!