Cegah Risiko Respiratory Syncytial Virus pada Bayi Prematur dengan Pemberian Antibodi Monoklonal
📅 Minggu, 23 Nov 2025, 18:23 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: Astra Zeneca Indonesia
JAKARTA - Kesadaran masyarakat terhadap bahaya Respiratory Syncytial Virus (RSV) perlu ditingkatkan. Hal ini terutama pada bayi prematur yang memiliki sistem kekebalan dan paru-paru belum sempurna, serta menekankan pentingnya pencegahan dini guna mendukung tumbuh kembang dan kualitas hidup jangka panjang mereka.
Setiap tahun, lebih dari 675.000 bayi lahir prematur di Indonesia, menempatkan Indonesia pada peringkat ke-5 di dunia dengan jumlah kelahiran prematur tertinggi menurut laporan Sommer C, dkk (2011). Pasalnya bayi yang lahir sebelum usia kehamilan 37 minggu ini memiliki sistem kekebalan tubuh yang belum sempurna.
“Bayi prematur memiliki risiko lebih tinggi karena paru-parunya belum berkembang sempurna. Selain itu, bayi prematur juga belum sempat menerima transfer antibodi pelindung dari ibunya secara optimal selama masa kehamilan, sehingga sistem kekebalan tubuh mereka masih sangat lemah dan rentan terhadap berbagai infeksi,” kata Prof. Dr. dr. Rinawati Rohsiswatmo, Sp.A, Subsp. Neo., Dokter Spesialis Anak Subspesialis Neonatologi, dalam sesi edukasi bertajuk “Kenali RSV, Selamatkan Bayi Berisiko Tinggi,” di Jakarta pada hari Kamis (20/11).
“Dibandingkan bayi cukup bulan, mereka memiliki kemungkinan dua hingga tiga kali lebih besar untuk dirawat di rumah sakit akibat infeksi RSV pada tahun pertama kehidupannya. Infeksi ini sering kali berkembang dengan cepat dan dapat memerlukan perawatan yang lebih lama serta intensif,” tambahnya.
RSV menjadi virus penyebab utama infeksi saluran pernapasan bawah dengan kontribusi sekitar 60–80% pada bronkiolitis dan 30% pneumonia pada bayi dan anak-anak di dunia. Gejala awal RSV seringkali disalahartikan sebagai flu biasa karena gejalanya yang serupa, seperti pilek, bersin, dan batuk ringan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Padahal infeksi RSV dapat berkembang cepat menjadi gangguan pernapasan berat dan bahkan meninggalkan dampak jangka panjang termasuk peningkatan risiko asma, wheezing (mengi) kronis, serta penurunan fungsi paru di kemudian hari.
Untuk membedakan RSV dengan penyakit pernapasan lainnya, penting untuk mengenali perbedaan gejalanya. Berdasarkan salah satu studi, diperkirakan 1 dari 10 bayi di Indonesia meninggal karena infeksi saluran napas bawah akibat RSV.
Menurut National Foundation for Infectious Diseases (NFID), common cold umumnya menimbulkan gejala ringan seperti kelelahan, nyeri otot, dan sakit tenggorokan, namun jarang disertai demam. Flu (Influenza) datang secara tiba-tiba dengan demam tinggi, nyeri otot, kelelahan, dan sakit tenggorokan, namun jarang menyebabkan sesak napas.
Sebaiknya Anda baca juga:
Sementara itu, Covid-19 memiliki gejala mirip flu tetapi sering disertai sesak napas, kelelahan berat, dan terkadang kehilangan indera penciuman atau perasa. Berbeda dengan ketiganya, RSV lebih sering menyerang bayi dan anak kecil dengan gejala batuk, demam ringan, wheezing (mengi), dan kesulitan bernapas.
Pada tahap awal, infeksi RSV biasanya menyerupai flu biasa dengan pilek (rhinorrhea), bersin, dan hidung tersumbat, tetapi pada bayi dengan risiko tinggi, termasuk bayi prematur, gejala dapat dengan cepat berkembang menjadi gangguan pernapasan serius.
“RSV sering kali belum menjadi perhatian utama bagi orang tua, padahal virus ini dapat berdampak signifikan pada kesehatan pernapasan anak. Studi di Indonesia menunjukkan RSV termasuk dalam dua virus yang paling umum ditemukan pada anak dengan kelompok usia yang sama mengidentifikasi RSV sebagai salah satu patogen utama penyebab pneumonia pada anak,” ungkap Prof. dr Cissy Rachiana Sudjana Prawira, Sp.A(K), MSc, Ph.D., Dokter Spesialis Anak Konsultan Respirologi Anak.
“Karena itu, penting bagi masyarakat, terutama para orang tua dengan bayi berisiko tinggi seperti bayi prematur, untuk meningkatkan kesadaran dan mengambil langkah pencegahan sedini mungkin agar bayi tetap terlindungi,” imbuhnya.
Ia menuturkan, berdasarkan Konsensus RSV Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tahun 2024, identifikasi dini RSV dan pemberian antibodi monoklonal yaitu protein yang diproduksi dari satu klon sel dan diklasifikasikan ke dalam empat jenis: murine, chimeric, humanized, dan antibodi manusia.
Salah satu contoh produk antibodi monoklonal adalah Palivizumab yang berperan sebagai profilaksis infeksi RSV berat, direkomendasikan bagi bayi dengan risiko tinggi. Kelompok ini termasuk, bayi prematur, bayi dengankondisi bronchopulmonary dysplasia (BPD) serta bayi yang memiliki penyakit jantung bawaan (congenital heart disease (CHD).
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!