Indonesia Menuju Pusat Inovasi Obat Herbal Modern Dunia
📅 Senin, 03 Nov 2025, 20:03 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: Bintang Toedjoe
JAKARTA— Kunjungan WHO–International Regulatory Cooperation for Herbal Medicines (IRCH) meninjau inovasi dan teknologi pengolahan herbal di PT Bintang Toedjoe pekan lalu bermakna lebih dari sekadar meninjau performa usaha sebuah produsen farmasi herbal semata. Lebih dari itu kunjungan mereka juga pengakuan bagi Indonesia sebagai salah satu produsen obat herbal dengan keanekaragaman hayati tertinggi di dunia.
Dengan kekayaan itu tidak mengherankan jika Indonesia dipandang memiliki potensi besar dalam bidang pengobatan alami. Dengan pengetahuan lokal turun temurun yang disempurnakan melalui penelitian ilmiah serta pembentukan ekosistem yang memadai, Indonesia bisa jadi pemain kunci dalam pengembangan obat herbal modern di dunia. Hal ini bisa dimulai dari memaksimalkan salah satu herba asli Indonesia, jahe merah.
Menanggapi hal ini, dalam sebuah siniar yang ditayangkan di YouTube, dr. Inggrid Tania, Ketua Perkumpulan Dokter Pengembangan Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI) juga menyatakan hal senara.
“Ribuan tumbuhan sudah dimanfaatkan sebagai pengobatan herbal sejak zaman nenek moyang. Di Indonesia, kita sudah punya farmakope herbal untuk standarisasi produk herba. Ini menunjukkan kita memiliki pengetahuan mendalam terkait proses dan khasiat berbagai tumbuhan untuk pengobatan dan kesehatan. Salah satunya jahe merah yang banyak jadi pilihan orang, apalagi ketika pandemi COVID-19 lalu,” jelas dokter Inggrid yang disampaikan melalui siaran pers pada hari Senin (3/11).
Jahe merah memang salah satu herba asli Indonesia yang sudah dimanfaatkan sejak lama. Tanaman rimpang berwarna merah gelap ini sudah jadi pengobatan tradisional oleh berbagai masyarakat adat, seperti suku Jawa, Tolitoli, Banjar, Madura, Batak, Dayak, Bugis, dan Sunda untuk kekebalan dan vitalitas tubuh. Siapa sangka kini penelitian modern ternyata membenarkan pengetahuan lokal ini.
Sebaiknya Anda baca juga:
Dengan kandungan gingerol, shogaol, dan zingerone yang tinggi, jahe merah bersifat anti-inflamasi, antioksidan, antiemetik (mengurangi rasa mual), antibakteri, dan antidiabetes. Tidak heran jika jahe merah sering dimanfaatkan untuk meredakan mual karena masuk angin dan meningkatkan daya tahan tubuh.
Selain itu, sebuah penelitian "Phytotherapy Research" menunjukkan bahwa jahe merah memiliki potensi dalam mengurangi gejala arthritis karena sifat anti-inflamasinya. Pun sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal "Journal of Ethnopharmacology" menemukan bahwa ekstrak jahe merah memiliki efek antidiabetes dan dapat membantu mengontrol kadar gula darah.
Tantangan Industri Herbal Jahe Merah Lokal dan Global
Sebaiknya Anda baca juga:
Satu jenis herba saja sudah terbukti memiliki segudang manfaat, apalagi herba lainnya. Pasar obat herbal Indonesia pun berkembang, mulai dari usaha kecil hingga industri skala besar. Standarisasi obat herbal di Indonesia diawasi oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia (BPOM RI) untuk memproduksi obat herbal yang sesuai dengan standar nasional. Berbagai pengujian dilakukan untuk memastikan kualitas, keamanan, dan manfaat bagi konsumen.
Di acara yang sama, dr. Inggrid menjelaskan tiga aspek yang harus dipenuhi, yaitu autentisitas, bahwa produk asli benar, misalnya memang pakai jenis jahe merah dan bukan jenis lain; kemurnian, yang berarti tidak terkontaminasi logam berat, mikroba, dan sebagainya; serta mutu, untuk menentukan taraf kualitas kandungan zat aktif dalam bahan.
“Ekosistem obat herbal dari hulu sampai hilir diperlukan agar produk bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah dari sisi keamanan, kualitas, dan khasiat,” tutur dr. Inggrid Tania.
Ekosistem obat herbal yang terintegrasi dimulai dari kebun dengan perbenihan, budidaya bersama petani binaan, berlanjut ke proses pascapanen, ekstraksi, destilasi, hingga riset dan produk sampai ke tangan konsumen.
Dengan adanya ekosistem obat herbal yang berjalan dari hulu hingga ke hilir, sumber bahan-bahan alami yang digunakan bisa dipastikan kualitasnya sehingga mendukung traceability dan mendukung keberlanjutan (sustainability) bisnis yang selaras dengan alam.
“Mayoritas industri obat herbal di Indonesia belum memiliki ekosistem. Kita jadi tidak bisa trace sumber bahan baku dari mana, ditanam di mana, dan apakah ada potensi pencemaran. Permasalahan ini yang perlu kita perbaiki bersama dengan pelaku usaha, pemerintah, dan organisasi untuk memastikan standarisasi untuk daya saing global,” jelas dr. Inggrid.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!