Saintifikasi Jamu, Langkah Strategis Jadikan Obat Herbal Diakui dalam Sistem Kesehatan Nasional
📅 Selasa, 02 Sep 2025, 16:55 WIB | Oleh: Henri pelupessy
Doc: koran jakarta/dok
SEMARANG – Pemanfaatan obat herbal untuk mendukung layanan kesehatan modern terus mendapatkan perhatian serius. Fakultas Kedokteran Universitas Negeri Semarang (Unnes) bersama Sido Muncul menggelar Seminar Nasional Pemanfaatan Obat Herbal Menuju Indonesia Sehat, di Kampus Fakultas Kedokteran Unnes, Kota Semarang, Selasa (2/95).
Forum ini diikuti sekitar 250 peserta dari kalangan dokter, apoteker, hingga tenaga kesehatan, baik secara luring di ruang B106 maupun daring melalui Zoom Meeting.
Kegiatan yang sudah berlangsung sejak 2007 ini menjadi wadah literasi ilmiah mengenai jamu dan herbal. Para peserta diajak memahami manfaat serta keterbatasan tanaman obat agar dapat diposisikan sebagai pendamping obat farmasi di layanan medis.
Direktur PT.Sido Muncul Tbk, Irwan Hidayat yang menjadi salah satu pembicara, menegaskan saintifikasi jamu adalah langkah strategis untuk menjadikan herbal diakui dalam sistem kesehatan nasional.
“Bahan baku seperti jahe, kunyit, atau temulawak kami siapkan dengan standar ketat. Kalau dokter sudah paham manfaatnya, mereka akan lebih percaya menggunakan herbal bersama obat farmasi,” ungkapnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Irwan menambahkan, literasi herbal bagi tenaga medis sangat penting agar tercipta kepercayaan. Pihaknya juga menyiapkan kompendium herbal, berupa catatan riset manfaat tanaman obat yang akan dibagikan kepada dokter sebagai referensi ilmiah.
Acara ini menghadirkan enam narasumber dalam dua sesi. Pada sesi pertama, hadir Deputi Bidang Pengawasan Obat Tradisional, Suplemen Kesehatan, dan Kosmetik BPOM RI, Mohamad Kashuri; Direktur Produksi dan Distribusi Farmasi Kementerian Kesehatan RI, Dita Novianti Sugandi Argadiredja; serta Irwan Hidayat yang menyoroti industri herbal berbasis Good Manufacturing Practices (GMP).
Sesi kedua menampilkan Dr. dr. Neni Susilaningsih dari Universitas Diponegoro yang memaparkan uji manfaat Tolak Angin; Dr. apt. Ipang Djunarko dari Universitas Sanata Dharma yang membahas uji toksisitas subkronis; serta Prof. Dr. dr. Mahalul Azam, Dekan Fakultas Kedokteran Unnes, yang menekankan peran perguruan tinggi dalam riset fitofarmaka.
Sebaiknya Anda baca juga:
Menurut Irwan, pendekatan melalui jalur kedokteran lebih efektif dibanding menciptakan jalur baru. “Kedokteran adalah pintu resmi. Kalau jalur sendiri, tidak efisien. Karena itu, kami ingin meyakinkan dokter bahwa herbal ini aman, standar, dan sesuai kebutuhan pasien,” jelasnya.
Dukungan Akademisi
Rektor Unnes, Prof. Dr. S. Martono, menyambut baik forum ini sebagai sarana edukasi masyarakat dan tenaga medis. “Selama ini herbal sering dipandang sekadar tradisi, sementara farmasi dianggap satu-satunya solusi. Padahal keduanya bisa beriringan jika didukung riset ilmiah. Seminar ini meluruskan banyak persepsi keliru,” ujarnya.
Senada, Dekan Fakultas Kedokteran Unnes, Prof. Dr. dr. Mahalul Azam menekankan pentingnya inovasi berbasis tanaman obat. Menurutnya, mahasiswa kedokteran Unnes kini aktif melakukan penelitian herbal, termasuk pengembangan fitofarmaka. “Seminar ini memperkuat semangat kami untuk menghasilkan riset yang bermanfaat nyata bagi dunia medis,” tegasnya.
Lewat sinergi industri, pemerintah, dan akademisi, pemanfaatan herbal diyakini dapat semakin berkembang dan berkontribusi terhadap program Indonesia Sehat. Harapannya, jamu tidak lagi sekadar warisan budaya, tetapi menjadi bagian integral dari pelayanan kesehatan modern berbasis riset dan standar internasional.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!