Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Ratusan Penumpang Padati Dermaga Banda Neira, Antre Kapal Pelni Menuju Ambon

📅 Minggu, 26 Okt 2025, 12:10 WIB | Oleh: Tim Penulis

Ketika kapal sedang docking, aktivitas logistik di Banda Neira pun terganggu. Barang tertahan, stok menipis, dan harga kebutuhan mulai naik. Semua berharap kapal cepat kembali berlayar menembus ombak.

Mirna selalu berdoa agar Pangrango segera turun beroperasi lagi. Kapal itu adalah jembatan utama yang membuat roda ekonomi di pulau kecil tetap bergerak dan kebutuhan warga terus terpenuhi. Bagi masyarakat Banda Neira, Pelni adalah wajah nyata kehadiran negara untuk rakyat.

Banda Neira, pulau kecil di jantung Laut Banda, berdiri tenang di antara ombak biru yang berlapis riak sejarah. Di sinilah masa lalu kolonial Belanda masih bernapas lewat benteng, rumah tua, dan kisah perjuangan.

Misi kemanusiaan

Di wilayah-wilayah 3TP, kapal Pelni, selain mendukung mobilitas dan logistik, sering menjadi ambulans terapung, menempuh gelombang panjang demi membawa pasien ke rumah sakit rujukan di kota besar, seperti Ambon. Tidak jarang, di atas kapal ini pula seorang bayi pertama kali melihat dunia.

Kapal Pelni memiliki fasilitas poliklinik di setiap armada penumpang, lengkap dengan tempat tidur, obat-obatan dasar, hingga tabung oksigen. Beberapa kapal, bahkan menempatkan tenaga medis atau dokter untuk menangani kondisi darurat selama pelayaran. Semua layanan kesehatan itu diberikan tanpa biaya karena difasilitasi oleh negara lewat perusahaan tersebut.

Meskipun demikian, tidak sedikit pula penumpang yang datang tanpa surat rujukan resmi dari otoritas kesehatan. Dalam situasi mendesak, pihak kapal tetap memberi ruang, mencatat peristiwa dengan berita acara, dan mengutamakan sisi kemanusiaan dibanding aturan kaku. Di laut luas, waktu sering kali lebih berharga dari dokumen.

Kisah penumpang sakit yang harus ditandu, malam itu, hanyalah satu dari sekian banyak peristiwa yang menggambarkan peran ganda Pelni.

Ketika wisatawan terjebak akibat letusan Gunung Lewotobi di Nusa Tenggara Timur, kapal Pelni diarahkan untuk menjemput mereka menuju pelabuhan terdekat. Di saat semua moda transportasi lain berhenti, kapal Pelni tetap berlayar.

Demikian pula, saat bencana melanda Palu, kapal yang biasanya mengangkut penumpang sipil berubah menjadi kapal kemanusiaan. Di dalam ruang yang biasanya dipenuhi koper dan karung, berubah menjadi susunan bantuan logistik dan peralatan penyelamat.

Bagi Pelni, laut bukan sekadar jalur niaga, tapi juga jalur empati. Di dalam dek baja yang mengarungi samudra, tersimpan kisah tentang pelayanan publik yang tetap berdenyut di tengah tuntutan bisnis.

Pelni berada dalam posisi unik, di mana "kaki kiri" perusahaan berpijak pada misi sosial, sementara "kaki kanan" berdiri pada tuntutan komersial. Dua sisi yang jarang bisa dijalankan bersamaan oleh perusahaan transportasi lainnya.

“Kalau swasta pasti profit, profit, dan profit, sementara Pelni harus siap kapan pun menjalankan penugasan sosial," ujar Manager Komunikasi Korporasi Pelni Ditto Pappilanda di atas KM Sangiang, yang berlayar menembus malam gelap lautan Banda dari Banda Neira menuju Ambon.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Cedera Badosa Bantu Sherif Juara

19 menit yang lalu | Opik

Olahraga
Cedera Badosa Bantu Sherif ...

Panen ikan nila Larasati

33 menit yang lalu | Wahyu AP

Ekonomi
Panen ikan nila Larasati

Fasilitas desalinasi untuk warga pesisir

38 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Fasilitas desalinasi untuk ...

Festival UFO Indonesia

53 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Festival UFO Indonesia

Pembangunan kanopi di Stasiun Bogor

53 menit yang lalu | Wahyu AP

Megapolitan
Pembangunan kanopi di Stasi...
Ekonomi
Realisasi penggunaan BBM be...
Menpar: Indonesia Berpotensi Jadi Pusat Gastronomi Dunia

Menpar: Indonesia Berpotensi Jadi Pusat Gastronomi Dunia

21 Jul 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.