Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Ratusan Penumpang Padati Dermaga Banda Neira, Antre Kapal Pelni Menuju Ambon

📅 Minggu, 26 Okt 2025, 12:10 WIB | Oleh: Tim Penulis

Seorang perempuan berkerudung abu-abu berdiri terpaku di sisi pelabuhan. Air matanya jatuh pelan, bukan karena perpisahan, tapi karena tersentuh melihat betapa besar arti kapal bagi kehidupan di Banda Neira.

Bagi warga pulau itu, Pelni bukan sekadar kapal besar yang berlabuh dan berangkat. Ia adalah jembatan kemanusiaan, membawa logistik, kesehatan, pendidikan, dan rasa keterhubungan antar-pulau.

Setiap peluit panjang yang terdengar, bukan hanya tanda keberangkatan, tapi juga pernyataan bahwa negara selalu hadir di wilayah tertinggal, terdepan, terluar, dan perbatasan (3TP).

Kapal pun perlahan berlayar meninggalkan dermaga membawa manusia, barang, dan harapan melintasi Maluku, menjaga denyut kehidupan yang tak pernah padam.

Transportasi andalan

Mirna (37 tahun) menjadi salah satu wajah ketekunan Banda Neira. Dari rumah kayunya yang sederhana, ia menjalankan usaha kecil menjual barang pecah belah, pakaian, dan buah segar untuk warga sekitar.

Rumahnya, sekaligus menjadi toko kecil, tempat warga datang membeli kebutuhan harian, sambil bertukar kabar. Di ruang sempit itulah roda ekonomi Banda Neira berputar sederhana, tapi pasti.

Sebagian besar barang dagangan didatangkan dari Ambon dan Makassar. Mirna mengandalkan adiknya di Makassar untuk mengirimkan pesanan, sehingga ia tidak perlu sering bepergian jauh, cukup menunggu kapal datang.

Setiap awal dan akhir bulan, Mirna biasanya berangkat ke Ambon menggunakan kapal Pelni, entah Pangrango atau Labobar. Ia menyesuaikan jadwal keberangkatan dengan ketersediaan kapal agar stok tetap aman.

Perjalanan itu bukan hal mudah. Ia harus menunggu tiga, hingga empat hari, sampai kapal tiba, lalu menempuh pelayaran 14 jam ke Ambon dalam cuaca yang kadang tidak bersahabat. Namun, semua dijalani dengan sabar.

Selain berdagang langsung, Mirna juga memanfaatkan media sosial. Ia memotret dagangan dan memostingnya di media sosial agar pembeli dari luar Banda bisa memesan, tanpa harus datang langsung.

Kapal Pelni, baginya bukan hanya sarana transportasi, tetapi urat nadi kehidupan. Selama bertahun-tahun, pengiriman barang berjalan aman, tanpa kehilangan, membuat kepercayaan warga terhadap layanan ini tetap tinggi.

Hanya saja, jadwal kapal tidak selalu pasti. Pangrango biasanya beroperasi satu atau dua kali sepekan, sementara Labobar yang berlayar jauh dari Jawa, sering penuh penumpang dan tidak selalu bisa memuat barang.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Rona
Penyanyi Legendaris Peabo B...
Megapolitan
Polres Metro Bekasi Kota Be...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Kesempatan Emas: UEA Buka 500 Lowongan untuk Pekerja Migran Indonesia

Kesempatan Emas: UEA Buka 500 Lowongan untuk Pekerja Migran Indonesia

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.