WIKA Ubah Sampah Jadi Energi lewat Inovasi Digital
📅 Jumat, 17 Okt 2025, 07:14 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA
AMSTERDAM – Di tengah meningkatnya krisis sampah perkotaan dan terbatasnya lahan Tempat Pembuangan Akhir (TPA), PT Wijaya Karya (Persero) Tbk atau WIKA menghadirkan solusi konkret melalui proyek Refuse Derived Fuel (RDF) Jakarta di Rorotan, Jakarta Utara.
Proyek ini bukan hanya menjawab tantangan pengelolaan sampah, tetapi juga menandai langkah besar Indonesia menuju ekonomi sirkular berbasis energi terbarukan.
Selama ini, kebijakan pengelolaan sampah di Indonesia dihadapkan pada dilema klasik: volume sampah terus meningkat, sementara kapasitas TPA kian terbatas. Di Jakarta saja, lebih dari 7.000 ton sampah dihasilkan setiap hari, dan sebagian besar masih berakhir di TPA Bantargebang.
Melalui RDF Rorotan, WIKA membuktikan bahwa sampah bukanlah beban, melainkan sumber energi alternatif yang bernilai tinggi.
Refuse Derived Fuel (RDF) adalah bahan bakar padat hasil pengolahan sampah rumah tangga dan perkotaan melalui proses pemilahan, pencacahan, pengeringan, hingga pengolahan lanjutan. Fasilitas RDF Rorotan mampu mengolah sekitar 2.500 ton sampah per hari menjadi bahan bakar pengganti batu bara yang digunakan oleh industri semen, seperti Indocement.
Sebaiknya Anda baca juga:
Penggunaan RDF mampu menekan ketergantungan pada batu bara hingga 30 persen, serta menurunkan emisi karbon sebanyak 100.000 ton karbon dioksida per tahun yang setara dengan mengurangi 28.000 mobil dari jalan raya.
“Proyek ini merupakan langkah nyata dalam mendukung target pengurangan emisi dan transisi energi nasional,” ujar Sagara Senjakartika Putra, Engineering Manager RDF Plant Jakarta, usai mempresentasikan proyek tersebut dalam ajang Going Digital Awards 2025, bagian dari acara tahunan Bentley Systems Year in Infrastructure yang digelar di Amsterdam, Belanda pada Kamis (16/10).
“Setiap ton sampah yang masuk ke RDF berarti satu langkah lebih dekat menuju masa depan energi yang lebih hijau,” tambahnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
Inovasi Digital untuk Efisiensi dan Akurasi
Membangun fasilitas sebesar ini tentu tidak mudah. WIKA menghadapi tantangan kompleks dalam desain, integrasi sistem, dan koordinasi lintas disiplin teknik di area proyek yang relatif terbatas.
“Awalnya kami bekerja dengan sistem konvensional yang memakan waktu dan rawan kesalahan,” ujar Sagara. “Namun kami kemudian beralih ke pendekatan digital yang lebih terintegrasi.”
Dengan dukungan teknologi Bentley Systems seperti ProjectWise, iTwin, dan SYNCHRO, WIKA membangun ekosistem digital yang menghubungkan seluruh tahapan proyek, mulai dari desain, konstruksi, hingga operasional.
Melalui sistem ini, setiap elemen fasilitas dapat dimodelkan secara 3D real-time, dijadwalkan menggunakan 4D modeling untuk memvisualisasikan waktu, dan dihitung biayanya melalui 5D cost management.
Menurut Oktob Bayu Hangora Putro, Lead Digital Twin & BIM Strategic Project Management Division WIKA, integrasi digital ini membawa perubahan besar dalam budaya kerja perusahaan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!