Rupiah Hari Ini Melemah 0,02 Persen, Gejolak Global Balik Lagi: Ancaman Tarif 100% AS ke Tiongkok Bikin Pasar Langsung Panik
📅 Senin, 13 Okt 2025, 18:32 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: ANTARA/ Dhemas Reviyanto
JAKARTA – Pelemahan rupiah belakangan ini dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap rencana Amerika Serikat mengenakan tarif hingga 100 persen terhadap produk asal Tiongkok.
Ketegangan dagang kedua negara tersebut memicu arus modal keluar dari negara berkembang, termasuk Indonesia, karena investor mencari aset aman seperti dolar AS.
Kondisi ini menekan nilai tukar rupiah sekaligus memperlihatkan sensitivitas pasar domestik terhadap dinamika global.
Jika ketegangan berlanjut, tekanan terhadap rupiah bisa meningkat, meski intervensi dan stabilisasi oleh Bank Indonesia (BI) diharapkan mampu meredam gejolak berlebihan.
Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan Senin (13/10) sore melemah sebesar 3 poin atau 0,02 persen menjadi Rp16.573 per dolar AS dari sebelumnya Rp16.570 per dolar AS.
Sebaiknya Anda baca juga:
Adapun Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini justru menguat ke level Rp16.580 per dolar AS dari sebelumnya sebesar Rp16.585 per dolar AS.
Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuabi menganggap pelemahan nilai tukar (kurs) rupiah dipicu ancaman tarif 100 persen terhadap impor barang-barang Tiongkok.
“Presiden AS Donald Trump memicu kembali ketegangan perdagangan pada hari Jumat dengan mengancam akan mengenakan tarif hingga 100 persen pada impor Tiongkok dan memperketat kontrol ekspor pada teknologi penting. Pernyataan tersebut meresahkan pasar keuangan,” katanya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (13/10).
Sebaiknya Anda baca juga:
Mengutip Anadolu, Trump berjanji mengenakan tarif baru sebesar 100 persen terhadap barang-barang Tiongkok dan membatasi ekspor "perangkat lunak penting" setelah Beijing mengumumkan pembatasan ekspor mineral tanah jarang.
AS menargetkan penerapan tarif tersebut sejak 1 November 2025 atau lebih cepat, tergantung tindakan atau perubahan lebih lanjut yang diambil oleh Tiongkok.
Tiongkok mengumumkan pembatasan ekspor unsur tanah jarang yang baru pada Kamis (9/10). Pembatasan tersebut memperluas batasan pada teknologi pemrosesan dan manufaktur serta melarang kerja sama dengan perusahaan asing tanpa izin pemerintah terlebih dulu.
Kementerian Perdagangan Tiongkok mengatakan langkah-langkah tersebut bertujuan untuk menjaga keamanan dan kepentingan nasional dengan memberlakukan kontrol ekspor pada teknologi terkait unsur tanah jarang, termasuk penambangan, peleburan dan pemisahan, produksi material magnetik, dan daur ulang sumber daya sekunder.
Teknologi dan data terkait yang melibatkan penambangan, peleburan dan pemisahan unsur tanah jarang, peleburan logam, manufaktur material magnetik, dan daur ulang sumber daya sekunder tanah jarang, serta perakitan, pemeliharaan, dan peningkatan lini produksi terkait, tidak dapat diekspor tanpa izin resmi.
“Beijing menanggapi pernyataan Trump dengan mengatakan "tidak takut" akan perang dagang dan akan mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk melindungi kepentingannya. Sikap tegas ini meningkatkan kekhawatiran tentang eskalasi baru dalam ketegangan ekonomi AS-Tiongkok,” ujar Ibrahim.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!