Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Papalele, Warisan Budaya Takbenda Perempuan Maluku

📅 Senin, 13 Okt 2025, 06:24 WIB | Oleh: Tim Penulis

Papalele di Maluku bukan sekadar aktivitas ekonomi tradisional, melainkan cerminan dari peran sosial perempuan dalam menjaga keseimbangan kehidupan masyarakat. Dalam keseharian, para papalele tidak hanya menjadi tulang punggung ekonomi keluarga, tetapi juga simbol solidaritas dan kekuatan perempuan.

Papalele juga merupakan sistem ekonomi mikro berbasis kepercayaan, di mana setiap transaksi tidak hanya berorientasi pada barang yang dijual, tetapi juga pada nilai kejujuran, hubungan sosial, dan saling percaya antara penjual dan pembeli.

Keunikan inilah yang membuat praktik papalele mampu bertahan lintas generasi. Lebih dari itu, papalele juga berfungsi sebagai ruang pendidikan informal bagi anak-anak. Melalui pengalaman membantu ibu mereka berjualan, anak-anak belajar tentang tanggung jawab, kerja keras, dan kebersamaan.

Nilai-nilai ini menjadi bentuk pendidikan karakter yang melekat kuat dalam kehidupan masyarakat Maluku dan tidak tergantikan oleh pendidikan formal. 

Perempuan, ketahanan dan identitas

Dahulu, papalele dikenal sebagai tradisi ekonomi rakyat di Maluku, di mana para perempuan tangguh berjalan kaki dari kampung ke kampung menjajakan hasil bumi dengan bakul di kepala. Kini, tradisi itu berkembang menjadi daya tarik wisata budaya yang unik. Para papalele tidak hanya menjual ikan, sagu, dan rempah, tetapi juga memperlihatkan nilai-nilai ketekunan, kejujuran, dan solidaritas khas masyarakat Maluku.

Pemerintah daerah bersama pelaku pariwisata mulai mengemas aktivitas papalele sebagai atraksi hidup sebuah pengalaman otentik yang mempertemukan wisatawan dengan denyut kehidupan pasar tradisional, aroma rempah, dan kisah perjuangan perempuan Maluku yang menjadi simbol ketahanan ekonomi dan warisan budaya tak benda.

Salah satu generasi muda yang kini meneruskan tradisi papalele adalah Martha (29), warga Negeri Amahusu. Ia awalnya membantu Ibunya berjualan, namun kini mengelola usaha sendiri dengan mengombinasikan cara tradisional dan teknologi digital.

“Beta (saya) masih jalan dari rumah ke rumah, tapi sekarang juga pakai Instagram untuk promosi. Banyak orang dari luar Ambon yang pesan bagea dan sagu lewat situ,” ujarnya.

Bagi Martha, menjadi papalele bukan berarti tertinggal, tetapi justru bagian dari perjuangan menjaga identitas. Ia berharap anak-anak muda Maluku tidak malu melanjutkan tradisi ini, sambil memanfaatkannya untuk peluang ekonomi baru. 

Menjaga napas budaya 

Penetapan papalele sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia menjadi tonggak penting dalam upaya pelestarian budaya lokal. Namun menurut Christian Tukloy, pengakuan itu baru langkah awal. Tantangan ke depan adalah memastikan regenerasi, kesejahteraan, dan adaptasi papalele di era digital.

Papalele bukan sekadar cerita masa lalu, tapi praktik hidup yang terus berkembang. Karena di balik setiap nyiru di kepala, ada kisah perjuangan, cinta, dan kebanggaan perempuan Maluku.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
Advertisement
gaia musik festival

4 Tempat Usaha Don Ritto Mulai Disisir Petugas Kejagung

20 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
4 Tempat Usaha Don Ritto Mu...

Warga Akan Lebih Sehat Bila Tinggal di Rumah yang Layak Huni

24 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Daerah
Warga Akan Lebih Sehat Bila...

ASN Yang Segera Memasuki Masa Pensiun Perlu Persiapan

29 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Daerah
ASN Yang Segera Memasuki Ma...

Kalah Telak di Piala AFF: Timnas Indonesia Dibungkam Vietnam 0-3

Kalah Telak di Piala AFF: Timnas Indonesia Dibungkam Vietnam 0-3

03 Aug 2026
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.