Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Rupiah Melemah 0,04 Persen Sepekan Ini, Terseret Arus Global: Drama The Fed dan Shutdown AS!

📅 Jumat, 10 Okt 2025, 18:53 WIB | Oleh: Tim Penulis
Rupiah Melemah 0,04 Persen Sepekan Ini, Terseret Arus Global: Drama The Fed dan Shutdown AS! Doc: ANTARA
Ket. Ilustrasi - Petugas bank menunjukkan uang pecahan rupiah dan dolar AS.

JAKARTA – Sepekan ini atau periode 6-10 Oktober 2025, nilai tukar rupiah bergerak melemah tipis, yakni 7 poin atau sekitar 0,04 persen, seiring tekanan dari faktor eksternal yang masih dominan.

Pelaku pasar cenderung berhati-hati menghadapi potensi penutupan sementara (shutdown) pemerintahan Amerika Serikat (AS) dan ketidakpastian arah kebijakan suku bunga acuan Federal Reserve (The Fed).

Kombinasi dua sentimen tersebut membuat dolar AS tetap menjadi pilihan aset aman, sementara mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, berada di bawah tekanan.

Namun, pelemahan yang terjadi masih tergolong terbatas karena intervensi terukur dari otoritas moneter, yakni Bank Indonesia (BI).

Nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan, Jumat (10/10) sore, melemah sebesar 2 poin atau 0,01 persen dari sehari sebelumnya menjadi 16.570 rupiah per dolar AS. Sebagai perbandingan, kurs rupiah dalam perdagangan pada 3 Oktober lalu ditutup di level Rp16.563 per dolar AS.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari ini juga melemah ke level Rp16.585 per dolar AS dari sebelumnya sebesar Rp16.534 per dolar AS.

Analis mata uang sekaligus Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuabi menganggap pelemahan nilai tukar (kurs) rupiah dipengaruhi kekhawatiran pasar terkait penutupan pemerintah (government shutdown) pemerintah Amerika Serikat (AS) berkepanjangan.

“Penutupan pemerintah AS masih berlangsung hingga hari kesembilan dan Risalah Rapat Federal Reserve (Fed) terbaru menunjukkan bahwa para pembuat kebijakan sepakat untuk mendukung pasar tenaga kerja yang (sedang) melemah,” ujar dia dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat.

Berdasarkan risalah Federal Open Market Committee (FOMC), sebagian besar pejabat mendukung pemangkasan suku bunga di akhir tahun 2025 kendati beberapa anggota dari mereka memperingatkan agar tak bertindak terlalu cepat, mengingat tekanan inflasi terus berlanjut.

Penutupan pemerintah AS yang berkepanjangan dinilai mengganggu rilis data ekonomi utama, seperti Nonfarm Payrolls (NFP) yang seharusnya dipublikasikan pada Jumat (3/10).

“Kurangnya visibilitas terhadap kondisi ekonomi AS mempersulit prospek kebijakan Federal Reserve dan memperkuat ekspektasi penurunan suku bunga yang akan segera terjadi,” kata Ibrahim

Menurut CME FedWatch, pasar memperkirakan peluang penurunan suku bunga hampir 100 persen pada bulan Oktober, diikuti pemangkasan suku bunga selanjutnya pada pertemuan bulan Desember. Prospek ini dinilai akan memberikan tekanan pada imbal hasil obligasi pemerintah AS dan dolar AS (USD).

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Lulusan Banyak, Tapi Tak Sesuai Kebutuhan Industri? Menaker Ungkap Solusinya
    Artikel yang sangat edukatif dalam membedah akar permasalahan ...
  • Kemenperin Perkuat Industri Otomotif Nasional lewat Peningkatan TKDN dan SNI
    Saya sangat sependapat dengan pandangan komprehensif Bapak Saleh ...
  • Pelumasan Sintetis Dorong Produktivitas dan Daya Saing Industri Plastik
    Informasi spesifik mengenai penghematan konsumsi energi hingga 10 ...
  • Kemenperin akan Gunakan Nilai Tambah untuk Ukur Kinerja Manufaktur
    Keberhasilan Indonesia menempati peringkat ke-12 dunia sekaligus memimpin ...
  • Kemenperin akan Arahkan Industri 2027 pada Hilirisasi dan Industri Hijau
    Prestasi Indonesia yang berhasil naik ke peringkat 12 ...
Luar Negeri
Ikan Pelangi Endemik Austra...
Luar Negeri
Alaska Digoyang Gempa Kuat ...
Advertisement
WMO dan PBB Peringatkan El Niño Meningkat Menuju Level Sangat Kuat, Timbulkan Risiko Cuaca Ekstrem hingga 2027 dan Dampaknya pada Masyarakat Rentan

WMO dan PBB Peringatkan El Niño Meningkat Menuju Level Sangat Kuat, Timbulkan Risiko Cuaca Ekstrem hingga 2027 dan Dampaknya pada Masyarakat Rentan

03 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.