Hadir dalam Bentuk Fesyen, Andreas Soetanto Bawa Batik Solo Sukses ke Pasar Global
📅 Minggu, 28 Sep 2025, 19:42 WIB | Oleh: Haryo Brono
Doc: Batik Solo Sukses.
Batik terus menemukan ruang baru di tengah perubahan gaya hidup masyarakat. Sebagai warisan budaya lokal, batik dilestarikan melalui inovasi para UMKM pengrajin yang menghadirkan karya dalam bentuk fesyen modern, dekat dengan keseharian masyarakat.
Salah satu contohnya yang melahirkan batik dalam bentuk fesyen adalah kisah Batik Solo Sukses. UMKM Batik yang didirikan Andreas Soetanto di Kota Solo, Jawa Tengah, ini berdiri pada 2020, dengan memberdayakan pengrajin batik di lingkungannya. Dari cara ini usaha ini berhasil menghadirkan inovasi produk kemeja batik yang menjadi pilihan masyarakat.
Bagi Andreas sanga pemilik Batik Solo Sukses, batik bukan sekadar kain, melainkan identitas yang patut dilestarikan. Ia mengungkapkan sejak awal, ingin menjual produk yang dapat membawa cerita dan makna di setiap motifnya.
“Tentu penuh tantangan, apalagi ketika pasar lebih banyak mencari produk cepat dan praktis. Namun saya percaya, dengan cara yang tepat, batik tetap bisa dekat dengan generasi muda,” ungkapnya.
Ditambah dengan kehadirannya di platform belanja daring Shopee menjadi salah satu cara dia menjaga mimpi itu. Lewat Shopee usaha ia mengaku bisa menjangkau banyak pecinta batik di berbagai daerah hingga luar negeri.
Sebaiknya Anda baca juga:
“Bahkan, hampir 95 persen dari total penjualan Batik Solo Sukses berasal dari penjualan di platform Shopee,” ucapnya.
Batik Berkualitas Karya Pengrajin Lokal
Berdiri di kawasan Pasar Kliwon, Solo, yang merupakan sentra batik yang sudah terkenal sejak puluhan tahun lalu, pria yang akrab disapa Andre ini memulai usahanya dengan semangat untuk melestarikan warisan budaya sekaligus menjadikannya sumber penghidupan.
Sebaiknya Anda baca juga:
Awalnya, ia tidak langsung memilih batik sebagai produk utama namun mengeksplorasi mulai dari sarung hingga kemeja koko, untuk melihat produk mana yang paling bisa diterima pasar. Seiring berjalannya waktu, Andreas menyadari bahwa batik memiliki nilai lebih, baik dari sisi budaya maupun keunikan desain.
Keputusan itu tentu tidak mudah karena di awal perjalanan, ia harus berjuang meningkatkan penjualan batiknya. Andreas juga sempat merasa frustasi ketika menghadapi masalah pencurian foto produk oleh kompetitor. Tantangan ini cukup besar, karena bagi brand yang baru tumbuh, kualitas visual adalah salah satu senjata utama untuk menarik perhatian konsumen.
Alih-alih menyerah, Andreas menjadikan tantangan sebagai motivasi untuk berbenah. Ia mulai memperbaiki kualitas foto produk, membuat konten visual yang lebih menarik, sekaligus menyesuaikan desain dengan tren warna yang sedang diminati.
Mempertahankan motif khas bertema fauna yang menjadi ciri Batik Solo Sukses, ia berusaha memadukan sentuhan tradisional dengan nuansa modern. Beberapa produk andalannya yang paling laris adalah kemeja batik pria Kutut Burgundy, kemeja batik pria Mahkota, dan Raflesia, yang mencapai ribuan penjualan setiap bulannya.
“Perlahan, strategi tersebut membuahkan hasil. Setahun berselang, penjualan meningkat signifikan, dan kini Batik Solo Sukses berhasil membuka lapangan kerja bagi lebih dari 50 karyawan, termasuk para penjahit dari Sragen yang menjadi mitra produksi utama. Bagi saya, hal ini bukan sekadar soal pertumbuhan bisnis, tetapi juga kontribusi nyata untuk membuka lapangan kerja di daerah,” tambah Andreas.
Bertransformasi dan Bertumbuh
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!