Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Riset Akamai: GenAI Dorong Evolusi Edge

📅 Selasa, 02 Sep 2025, 19:50 WIB | Oleh:
Riset Akamai: GenAI Dorong Evolusi Edge Doc: Akamai
Ket. Riset Akamai menyebut sebanyak 31% perusahaan sudah menggunakan aplikasi GenAI di tahap produksi, sementara 64% lainnya masih dalam tahap uji coba.

JAKARTA – Seiring dengan semakin pentingnya penggunaan AI generatif dalam operasional bisnis, organisasi didorong untuk menata ulang model infrastruktur yang sudah using. Kesimpulan ini didapat dari laporan riset IDC yang dibuat untuk Akamai Technologies.

Berdasarkan makalah penelitian berjudul “The Edge Evolution: Powering Success from Core to Edge,” perusahaan di Asia Pasifik (APAC) menyadari bahwa arsitektur cloud yang tersentralisasi tidak dapat memenuhi tuntutan skala, kecepatan, dan kepatuhan yang terus meningkat.

Kalangan bisnis perlu menata ulang dan memperkuat strategi infrastruktur mereka agar menyertakan layanan edge sehingga dapat tetap kompetitif, memenuhi kepatuhan, serta siap menerapkan AI di dunia nyata. Edge computing memiliki keunggulan pada kecepatan, keandalan, dan keamanan yang lebih baik dalam aplikasi real-time.

Menurut riset bertajuk IDC Worldwide Edge Spending Guide — Forecast, 2025, layanan cloud publik untuk edge diperkirakan akan tumbuh dengan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (compound annual growth rate/CAGR) sebesar 17% hingga 2028, dengan total belanja yang diproyeksikan mencapai US$29 miliar pada tahun 2028.

Selain itu, dalam penelitian terbaru, IDC memperkirakan bahwa pada 2027, 80% CIO akan beralih dari penyedia cloud ke layanan edge untuk memenuhi tuntutan performa dan kepatuhan dari inferensi AI. Pergeseran ini menandai apa yang dalam riset tersebut disebut sebagai “Evolusi Edge.”

Hasil penelitian tersebut juga menguraikan bagaimana sistem yang terhubung dengan cloud public menggabungkan adaptabilitas dan skalabilitas cloud publik dengan kedekatan dan performa komputasi edge, sehingga memberikan fleksibilitas yang dibutuhkan dunia bisnis untuk berkembang di masa depan yang berbasis AI.

Pemeriksaan Realitas infrastruktur AI

Seiring beralihnya AI generatif dari tahap eksperimen ke tahap eksekusi, perusahaan-perusahaan di APAC mulai menghadapi keterbatasan infrastruktur lawas yang mereka gunakan. Saat ini, 31% organisasi yang disurvei di kawasan tersebut telah menerapkan aplikasi GenAI pada tahap produksi.

Sementara itu, 64% organisasi masih berada pada tahap uji coba atau pilot. Mereka masih menguji GenAI, baik untuk skenario penggunaan guna memenuhi kebutuhan pelanggan maupun internal. Namun, momentum yang pesat ini menunjukkan celah serius pada arsitektur cloud yang ada saat ini beberapa di antaranya adalah sebagai berikut.

Kompleksitas multi cloud: 49% perusahaan mengalami kesulitan mengelola lingkungan multicloud karena inkonsistensi pada alat, fragmentasi manajemen data, dan tantangan dalam menjaga sistem tetap mutakhir pada berbagai platform.

Perangkap kepatuhan: 50% dari 1.000 organisasi teratas di Asia Pasifik akan berhadapan dengan kesulitan akibat perubahan regulasi yang berbeda-beda dan standar kepatuhan yang terus berkembang, sehingga menyulitkan mereka beradaptasi dengan kondisi pasar dan mendorong inovasi AI.

Kenaikan biaya: 24% organisasi mengidentifikasi kenaikan biaya cloud yang tidak terduga sebagai tantangan utama dalam strategi GenAI mereka. Hambatan performa: Model cloud hub-and-spoke konvensional menimbulkan latensi yang melemahkan performa aplikasi AI real time, sehingga tidak sesuai untuk beban kerja GenAI pada skala produksi.

“AI hanyalah sekuat infrastruktur yang dijalankan,” kata Parimal Pandya, Senior Vice President, Sales, dan Managing Director, Asia Pasifik di Akamai Technologies.

“Hasil penelitian IDC ini mengungkap bagaimana bisnis di Asia Pasifik mengadopsi infrastruktur berbasis edge yang lebih terdistribusi untuk memenuhi kebutuhan performa, keamanan, dan biaya beban kerja AI modern. Platform edge global Akamai dibangun untuk transformasi tersebut mendekatkan kekuatan komputasi kepada pengguna, di tempat yang paling dibutuhkan,” ujar dia.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Luar Negeri
Resmi Masuk DK PBB, Kirgist...
Luar Negeri
Pilpres Kolombia Diinterven...
Luar Negeri
PBB Mendesak Transpransi Je...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Menkeu Sebut Rupiah Rp18.000 Masih dalam Perhitungan Pemerintah

Menkeu Sebut Rupiah Rp18.000 Masih dalam Perhitungan Pemerintah

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.