Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Transisi Energi Tanpa Dukungan Swasta? Siap-Siap APBN Tercekik

📅 Jumat, 15 Agu 2025, 22:50 WIB | Oleh: Tim Penulis
Transisi Energi Tanpa Dukungan Swasta? Siap-Siap APBN Tercekik Doc: Antara.
Ket. Ilustrasi - Warga membersihkan panel surya di atap rumahnya.

JEMBER - Pakar ekonomi Universitas Jember (Unej) Adhitya Wardhono, PhD menilai proyek-proyek energi baru terbarukan (EBT), seperti pembangkit listrik tenaga surya, hidro, dan panas bumi membutuhkan modal besar, teknologi canggih, serta kesiapan sumber daya manusia yang memadai. 

Tanpa skema pembiayaan kreatif dan keterlibatan sektor swasta, lanjutnya, transisi itu akan menjadi beban fiskal yang cukup signifikan. 

Pakar ekonomi moneter itu menilai bahwa target pembangkitan listrik 100 persen dari EBT dalam 10 tahun adalah visi progresif yang sejalan dengan komitmen pengurangan emisi karbon.

Namun, pencapaiannya memerlukan percepatan pembangunan infrastruktur, ketersediaan teknologi penyimpanan energi yang efisien, dan kebijakan insentif yang menarik bagi investor.

"Pengalaman negara lain menunjukkan bahwa keberhasilan transisi energi membutuhkan kombinasi regulasi yang konsisten, dukungan pembiayaan, dan keterlibatan aktif sektor swasta," kata peneliti ekonomi itu di Jember Jawa Timur, Jumat (15/8).

Seperti diketahui, Presiden Prabowo Subianto menunjukkan komitmennya dalam memperkuat ketahanan energi dan alokasi sebesar Rp402,4 triliun untuk ketahanan energi menunjukkan keseriusan pemerintah dalam memastikan pasokan energi yang stabil dan terjangkau, sekaligus mempersiapkan transisi menuju EBT.

Meski demikian, Adhitya Wardhono memberikan catatan terkait pidato Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto tentang Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026 dengan mengusung visi Indonesia Tangguh-Mandiri-Sejahtera.

"Tiga pilar utama itu diproyeksikan dicapai melalui pertumbuhan ekonomi 5,4 persen, inflasi terkendali 2,5 persen, serta penurunan tingkat pengangguran terbuka menjadi 4,44–4,96 persen," katanya di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Jumat (15/8) malam.

Menurutnya, capaian itu diletakkan dalam konteks global yang penuh ketidakpastian, seperti perang dagang, volatilitas pasar keuangan dan komoditas, hingga ancaman siber yang menuntut respons fiskal adaptif.

Salah satu prioritas RAPBN 2026 lainnya adalah Indonesia berkomitmen membangun generasi unggul, terutama untuk mencapai Indonesia Emas 2045 yang salah satunya diimplementasikan melalui Makan Bergizi Gratis (MBG).

"Alokasi MBG sebesar Rp335 triliun untuk mengatasi stunting dan meningkatkan kualitas SDM Indonesia merupakan langkah penting, namun tantangan utama terletak pada efektivitas implementasi di lapangan," ucap Adhitya yang juga dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unej itu.

Menurutnya, alokasi anggaran sebesar Rp335 triliun harus diiringi dengan pengawasan yang ketat untuk memastikan distribusi yang tepat sasaran, kualitas makanan yang diberikan, dan pemberdayaan usaha mikro kecil menengah (UMKM), serta ekonomi lokal yang benar-benar terdampak positif.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
  • Mentan Bidik Investasi Besar, Industri Bioetanol Nasional Mulai Digenjot
    Langkah strategis dari pemerintah pusat, khususnya melalui jaminan ...
  • Kemenperin Perkuat Kemitraan IKM Singkong dan Industri Nasional
    Langkah Kemenperin mengintegrasikan IKM olahan singkong melalui Program ...
  • Industri Bioetanol Indonesia Mau Digenjot, Mentan Bidik Investasi BUMN dan Swasta
    Potensi penghematan devisa negara hingga mencapai Rp500 triliun ...
  • Pertamina dan Jababeka Berkolaborasi Menuju Kawasan Hijau dan Nol Emisi
    Melihat tren positif pemasangan infrastruktur panel surya yang ...
Olahraga
Hari Ini Indonesia Berharap...
Advertisement
Mentan Amran Berang, Sebut Masuknya Beras Ilegal Khianati Kerja Keras 115 Juta Petani Indonesia

Mentan Amran Berang, Sebut Masuknya Beras Ilegal Khianati Kerja Keras 115 Juta Petani Indonesia

24 Sep 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.