Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

El Nino Godzilla Berpotensi Dongkrak Inflasi Pangan 2027 hingga 4,38 Persen

3 Selasa, 03 Nov 2026, 01:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
El Nino Godzilla Berpotensi Dongkrak Inflasi Pangan 2027 hingga 4,38 Persen El Nino Godzilla Berpotensi Dongkrak Inflasi Pangan 2027 hingga 4,38 Persen Doc: ANTARA/Destyan Sujarwoko
Ket. Faisal Rachman Kepala Departemen Riset Makroekonomi dan Pasar Keuangan Bank Permata - Tekanan inflasi pangan akan meningkat signifikan apabila pemerintah tidak melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga.

Ancaman El Nino Godzilla menuntut penguatan ketahanan pangan nasional melalui intervensi pemerintah dan transformasi sistem pertanian yang adaptif terhadap perubahan iklim.

JAKARTA - Fenomena El Nino Godzilla yang diperkirakan berlangsung hingga semester I 2027 perlu diwaspadai, karena berpotensi memicu lonjakan inflasi pangan Indonesia hingga 4,38 persen. Hal itu seiring dengan risiko penurunan produksi pertanian akibat kekeringan ekstrem. 

Ancaman tersebut menuntut penguatan ketahanan pangan nasional melalui intervensi pemerintah dan transformasi sistem pertanian yang adaptif terhadap perubahan iklim.

Kepala Departemen Riset Makroekonomi dan Pasar Keuangan Bank Permata Faisal Rachman memperkirakan tekanan inflasi pangan akan meningkat signifikan apabila pemerintah tidak melakukan intervensi untuk menjaga stabilitas pasokan dan harga.

“Kami memperkirakan, tanpa intervensi pemerintah untuk menstabilkan suplai dan harga pangan, inflasi pangan bisa melonjak hingga 4,38 persen di tengah skenario El Nino kuat,” kata Faisal di Jakarta, Senin (2/11).

Dengan skenario El Nino moderat, inflasi pangan diperkirakan bertambah 2,88 persen, sedangkan pada skenario lemah kenaikannya mencapai 1,35 persen. Dampak kenaikan inflasi pangan tersebut diperkirakan berkontribusi sekitar 0,27-0,88 persen terhadap inflasi umum.

Kerentanan Pertanian

Di waktu lain, Akademisi Fakultas Pertanian, Sains, dan Teknologi Universitas Warmadewa Bali,I Nengah Muliarta menilai proyeksi tersebut mencerminkan kerentanan struktural sektor pertanian terhadap anomali iklim global. Menurutnya, analisis makroekonomi perlu dilengkapi pemahaman mengenai respons fisiologis tanaman dan dinamika mikroorganisme tanah ketika menghadapi cekaman kekeringan ekstrem.

Ia menjelaskan, penurunan curah hujan secara drastis disertai peningkatan suhu permukaan tanah dapat menurunkan efisiensi fotosintesis tanaman pangan utama, seperti padi dan palawija. Kondisi tersebut berisiko menyebabkan kegagalan pembentukan bulir dan penurunan hasil panen secara masif.

Muliarta menilai ancaman El Nino juga memperlihatkan rapuhnya sistem rantai pasok pangan nasional yang masih bergantung pada pola tanam konvensional dengan penggunaan input eksternal tinggi.

Minimnya perlindungan petani terhadap perubahan iklim mikro, ditambah pergeseran pola musim akibat perubahan iklim, menyebabkan kalender tanam berbasis pola historis semakin kehilangan akurasi. Apabila El Nino kuat berlangsung hingga semester I 2027, sentra-sentra produksi domestik berpotensi menghadapi tekanan serius.

Muliarta menegaskan, respons pemerintah tidak cukup hanya mengandalkan operasi pasar yang bersifat reaktif dan jangka pendek. Peringatan mengenai potensi inflasi pangan perlu diikuti transformasi kebijakan di tingkat produksi melalui strategi mitigasi adaptif berbasis sain.

Salah satu pendekatan yang didorong adalah penerapan Low External Input and Sustainable Agriculture (LEISA), yakni sistem pertanian berkelanjutan yang mengoptimalkan sumber daya lokal dan menekan ketergantungan terhadap input eksternal.

Menurutnya, optimalisasi bahan organik tanah menjadi langkah penting untuk meningkatkan kemampuan tanah dalam menyimpan air. Tanah yang kaya bahan organik dan kompos matang dapat menjaga kelembapan mikro serta mendukung ketahanan fisiologis tanaman di tengah kekeringan berkepanjangan.

Selain itu, pemerintah perlu memperkuat infrastruktur air pedesaan, mendorong diversifikasi pangan lokal yang tahan kekeringan, serta meningkatkan pengelolaan limbah pertanian.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Kapasitas Produksi Menganggur, Industri Didesak Bangkit
    Berita yang sangat melegakan bagi kita yang bergerak ...
  • Jakarta Timur Bersiap Jadi Magnet Investasi Baru, Kawasan 370 Hektare Ini Dilirik
    Tidak akan sukses. Catat ini. Ormas sm warlok ...
  • Industri Makanan dan Minuman Tumbuh 7,04 Persen, KRISTA InterFOOD 2026 Perluas Peluang Bisnis
    Pencapaian kinerja industri mamin yang impresif ini tentu ...
  • Ekspor Tembus 4,85 Miliar Dolar AS, UGM Dorong Teknologi Hijau Industri Kulit
    Ekspor kulit tembus 4,85 miliar dolar AS, UGM ...
  • GrabMart Catat Lonjakan Pesanan Dini Hari, Strategi Pemasaran Brand Perlu Berubah
    Banyak sekarang pekerja kantoran sampe rumah malam, lalu ...

Bansos bagi 2.200 Warga Tangerang Cair

40 menit yang lalu | Sujar

Megapolitan
Bansos bagi 2.200 Warga Tan...
Megapolitan
Makanan Minuman dan Tembaka...
Olahraga
Bayi Ajaib Itu Kini Tak Lag...
Luar Negeri
Indonesia Perluas Kerja Sam...
Advertisement
Polemik Kadar Emas, Konsumen Soroti Perbedaan Hasil Pengujian

Polemik Kadar Emas, Konsumen Soroti Perbedaan Hasil Pengujian

02 Nov 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.