Kawat Berduri di Titik Nol, Pemda DIY Minta Polisi Perkuat Koordinasi
Selasa, 03 Nov 2026, 17:30 WIB | Oleh: Eko S
Doc: Dok. Antara
OGYAKARTA – Pemasangan kawat berduri oleh kepolisian di kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta mendapat perhatian Pemerintah Daerah (Pemda) DIY. Pemda meminta langkah pengamanan di kawasan cagar budaya dan Sumbu Filosofi Yogyakarta terlebih dahulu dikoordinasikan dengan pihak terkait agar tidak menimbulkan kesan pengamanan berlebihan.
Sekretaris Daerah DIY Ni Made Dwipanti Indrayanti mengatakan Pemda menghargai upaya kepolisian dalam menjaga keamanan wilayah. Namun, karakter Titik Nol Kilometer sebagai kawasan heritage membuat pola pengamanan di lokasi tersebut memerlukan perhatian khusus.
“Kami menghargai dan memahami tugas kepolisian untuk menjaga keamanan wilayah, seperti itu ya. Tapi memang ketika ini bicaranya di kawasan heritage, kawasan cagar budaya, saya kira ini menjadi berbeda, seperti itu. Sehingga harapan besar kami, ini kan inisiatif dari kepolisian ya, untuk memasang kawat berduri itu mungkin sebagai latihan atau apa ya, soalnya kami belum diberitahu untuk berkaitan dengan hal itu, mungkin perlu penekanan di sisi koordinatif,” ungkap Ni Made di Yogyakarta, Selasa (3/11/2026).
Menurut Ni Made, Pemda DIY sebelumnya belum mendapat pemberitahuan terkait pemasangan kawat berduri tersebut. Karena itu, komunikasi antarpihak dinilai perlu diperkuat jika langkah serupa akan dilakukan di kemudian hari.
“Mungkin kami berharap ke depannya hal-hal yang seperti ini kita kuatkan koordinasinya. Sehingga ketika ada langkah-langkah persuasif yang dilakukan, ini kami bisa mengantisipasi hal-hal yang mungkin dianggap sebagai persepsi terjadinya penjagaan yang berlebihan. Ini yang mungkin juga kami berharap bahwa ke depan tingkat koordinatifnya lebih diperkuat,” lanjut Ni Made.
Ia menilai pengamanan di kawasan Titik Nol juga perlu mempertimbangkan aktivitas masyarakat dan wisatawan. Kawasan tersebut merupakan bagian dari Sumbu Filosofi Yogyakarta dan terhubung dengan Malioboro yang menjadi salah satu pusat kunjungan wisata di Kota Yogyakarta.
“Jadi ketika ada pihak-pihak yang punya niat baik, mestinya ya juga seperti itu, mungkin bisa berkoordinasi dengan kita. Karena itu kan termasuk kawasan sumbu filosofis, kawasan Malioboro, banyak pengunjung, banyak wisatawan. Jadi bagaimana kemudian ketika akan dilakukan tindakan preventif dan lain-lain, itu mungkin perlu ada koordinasi yang humanis, yang bisa diterima oleh semua,” jelas Ni Made.
Pemda DIY berharap langkah preventif untuk menjaga keamanan tetap dapat dilakukan dengan pendekatan yang humanis serta mempertimbangkan status dan karakter kawasan cagar budaya.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!